Feeds:
Tulisan
Komentar

Judul di atas sengaja saya pilih karena masih ada kaitannya dengan tulisan saudara Satria Anandita, di web.Scientiarum.com dengan judul “Lembaga Penipu Mahasiswa Scientiarum”, pada 28 September 2009. Berhubung saya memiliki peran di dalam tubuh Scientiarum, selaku pribadi dan pemimpin umum, maka ijinkan saya untuk memberikan sedikit keterangan atas kasus ini.

Pertama-tama saya sebagai pribadi menaruh hormat dan menghargai saudara Satria Anandita, yang mana telah berani dan bersikap terbuka untuk memberitahukan terlebih dahulu kepada publik mengenai kasus hilangnya sebagian dana korban gempa Jawa Barat.

Melalui tulisan saudara Satria Anandita, benar adanya pencurian sebagian dana yang semestinya diperuntukan bagi para korban gempa Jabar. Namun, hingga kini belum diketahui siapakah pelaku tersebut?

Melalui rapat evaluasi Scientiarum kemarin sore, pukul 18.00, pada 28 September 2009. Forum bersepakat untuk mengusut masalah ini hingga tuntas. Rencananya cara yang kami tempuh, seperti menginterogasi satu persatu anggota SA yang terlibat dalam penggalangan dana dengan mendatangkan psikolog. Dan kami juga berihtiar melalui orang pintar (Dukun). Mungkin, melalui upaya ini segera diketahui siapa pelaku pencurian sebenarnya?

Saya mewakili segenap redaksi Scientiarum mohon maaf atas kecerobohan ini, apabila nantinya tidak ada yang mau mengakui dan kebenarannya belum juga terungkap, sebagai konsekuensinya kami serahkan sepenuhnya kepada publik dan pihak-pihak terkait yang selama ini menaungi Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum.

Laporan lain akan menyusul sambil menunggu perkembangan selanjutnya….

Salatiga, 29 September 2009
Bambang Triyono

Ritual Nenekku

imagesSeminggu sekali biasanya aku pulang ke rumah nenek yang kini tinggal sendirian. Nenekku kalau berjalan membungkuk, kemana-mana ia selalu membawa kursi sebagai penyangga berat badannya. Ritualnya sehari-hari, mengunyah sirih, berjemur dipagi hari, dan duduk di beranda depan rumahnya.

Setiap kali aku bersama nenek, yang paling ia sukai adalah berkisah tentang masa silamnya. “Aku tu … dulu kerjaannya nyuri daun metir milik tetangga,” katanya. Sambil mengawali ritual mengunyah daun sirih.

Saat itu aku hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalaku setiap kali mendengar celoteh nenek yang kadang terdengar konyol. Maklum, nenekku kini telah tuna rungu, kata ayah ia bisa mendengar tiap akhir bulan.

Kurang lebih 20-an tahun nenekku ditinggal pergi kakek menemui sang khalik. Saat itu aku masih kecil ketika kakekku meninggal dunia. Yang tersisa dalam memoriku, kakekku kalau berjalan membawa tongkat kayu, dan demen sekali menghisap cigaret linthingan.

Kata ayah, namaku sendiri pemberian dari kakekku. Konon diambil dari salah satu tokoh pewayangan, nama lain dari Werkudoro, agar nanti gagah, perkasa, pemberani, dan suka memberantas keangkaramurkaan.

Nenekku terus bercerita, aku mencoba untuk selalu didekatnya sambil sesekali menyentuh bahu nenek. Tak hanya cerita hiroiknya itu, nenekku juga memendam cerita kelam yang kadang bikin ia menitikan air mata. “Aku dulu pas mantenan bapak diem-diem menjual sapi.” Saat itu aku hanya mengangguk, sambil mengelus-elus punggung nenek, yang saat itu selalu teringat akan masa mudanya.

Raut wajah nenek dari hari ke hari semakin keriput, yang kadang membuatku enggan untuk meninggalkannya. Ia selalu berharap agar anak-anaknya atau cucu-cucunya mau menemani dan tinggal bersamanya. Nenekku yang sudah usur ini selalu khawatir bila sewaktu-waktu diambil sang khalik, kalau tak ada seorangpun mengetahuinya.

Dulu nenekku dikira telah meninggal dunia, sempat para tetangga berdatangan memanjatkan doa buat nenekku. Isakan tangis dari sebagian anak dan cucu-cucunya tak terbendung. Berjam-jam nenekku tak sadarkan diri, seakan bulir-bulir kabut benar-benar menyelimuti seisi rumahnya.

Namun, tak sedikit yang mengira nenekku terbangun dari kenihilan. Semua orang yang datang tercengang setelah mendengar kabar nenekku hidup kembali, alih-alih mata langsung tertuju tempat nenekku berbaring. Semua orang yang datang memanjatkan sujud syukur termasuk ayahku. Nenekku bilang rasanya seperti berada di sore hari, senyap, redup, dan kosong.

Hari berikutnya ayah pergi ke orang pintar untuk meminta petunjuk. Setelah pulang ayah memberitahukan kepada semua sanak-saudarannya, kalau nenekku saat itu gak jadi meninggal karena masih menyimpan jimat ditubuhnya yang belum dilepas. Ayahku juga bilang kalau nenekku akan hidup lebih lama lagi.

Semenjak kejadian itu paras nenekku kembali bersinar dan kulitnya begitu bersih. Namun, tubuh nenek masih tergeletak lemah di atas kasur, nenekku masih butuh perawatan khusus. Nenekku pun gak bisa berdiri seperti sedia-kala. Kalau mau berak pun ia harus dibopong, selanjutnya didudukan di atas kursi yang telah dilubangi.

Semasa perawatan adikku lah yang kerapkali memijat kaki nenek, nenekku suka dipijat-pijat dan diurut pakai jahe yang telah diparut. Adikku juga sering membopong nenek keluar rumah untuk menghirup udara segar atau sekedar berjemur.

Adikku termasuk cucu paling ia sayangi dari sekian cucu yang ada, semenjak adikku bekerja di luar kota nenekku kerapkali bertanya tentang kabarnya, “sekarang dia kerja di mana?

“Eeealah … dulu aku sakit yang merawat dia lho….”

Aku menatap wajah nenek yang saat itu tampak memendam kerinduan teramat dalam kepada cucunya itu. Aku hanya bisa mencoba melerai kepiluan yang dirasakannya. Beruntung saat itu akhir bulan, pendengaran nenekku lumayan normal, jadi aku bisa memberi gambaran singkat tentang keberadaan adikku selama ini. “Kabarnya baik-baik saja.”

“Lebaran pulang,” kataku, sambil sedikit mulutku kudekatkan ke telinga nenek.

PAGI KULIHAT mentari nun jauh di timur, nenek sudah berjemur duduk di kursi merah yang biasa ia pakai sebagai penyangga tubuhnya itu. Tak lama kemudian tiba-tiba nenekku menangis dan ngomel-ngomel sendirian. Aku mencoba mendekati nenekku, tapi ia menghiraukan ku. Dan, terus-menerus nenekku mencucurkan air mata hingga membasahi wajah keriputnya.

“Anak-anakku gimana kok gak perhatian lagi sama orang tuanya?”

Aku jadi teringat ayah dan ibuku yang selama ini kutahu perhatian sama nenekku, biasanya hari libur keduanya menemani nenekku. Tetapi dua hari aku bersama nenek, ayah dan ibuku tak kunjung datang. Anak-anaknya yang masih satu kampung pun tak menampakkan hidungnya. Biasanya kalau ayah dan ibuku bersama nenek, nenekku merasa tenang dan tak bakalan secengeng hari ini.

Cukup menahan kejengkelanku sendiri, akhirnya aku meminta nenek supaya mau masuk ke dalam rumah. Nenekku mengikuti kata-kataku, dan ia berjalan perlahan-lahan diiringi kursi penyangganya itu. Sebentar aku panaskan sup sayur dan menggoreng telur, usai itu kuhidangkan kepada nenek, sarapan.

Kulihat nenek sudah selesai makan, lalu ia meminta supaya diambilkan air putih panas. Selesai sarapan nenekku yang usianya seabad lebih kini, kembali melakukan ritual kecil mengunyah daun sirih, duduk di beranda, menunggu sore, lalu masuk ke dalam kamar.

Geliat Bushido

Baru saja diresmikan Pusat Kajian Etika. Dalam rangka ini Pendeta Sutarno kembali berceramah. Makalah yang ia sampaikan berjudul “Universitas Sebagai Laboratorium Etika”, ulasannya menarik dan mendalam.

Sutarno adalah Mantan Rektor ke II Universitas Kristen Satya Wacana. Menggantikan O.Notohamidjojo (almarhum) pada 11 Oktober 1973. Sutarno juga pernah menjadi pelaksana harian Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Jakarta. Lanjut Baca »

Oleh : Bambang Triyono

Di era informasi dan komunikasi kini, banyak perguruan tinggi menawarkan pendidikan jurnalisme. Ada wartawan yang pernah mengenyam pendidikan formal ini. Namun ada pula yang tak merasakannya sama sekali.

Jurnalisme dapat ditekuni oleh siapapun, tak melulu mereka yang mengenyam pendidikan formal. Toh juga tak ada ukuran baku untuk mengetahui tingkat keberhasilan seorang wartawan yang belajarnya secara otodidak, jika dibandingkan dengan yang tak otodidak. Lanjut Baca »

Oleh : Bambang Triyono

Arief BudimanBerani menyuarakan kebenaran, getol  bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media, Arief bangga perjuangannya hingga kini masih bergema.

Arief Budiman lahir di Jakarta, 3 Januari 1941. Sebelumnya, dia bernama Soe Hok Djin. Dia merupakan kakak kandung Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Soekarno. Hok Gie meninggal karena keracunan gas di Gunung Semeru tahun 1969. Lanjut Baca »

Simfoni Pelangi

Oleh: Bambang Triyono

Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku yang telah sekian lama terpendam. Lanjut Baca »

Oleh: Bambang Triyono

HASIM Djojohadikusumo datang ke kampus Universitas Kristen Satya Wacana pada 15 Juli 2008. Kedatangan tersebut disambut rektor dan para wakil rektor, serta mantan rektor, John Andreas Titaley. Menurut Wakil Rektor IV, Agna Sulis Krave, Hashim datang untuk bersilaturahmi karena kebetulan sedang di Salatiga. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »