RumAh KOsong

att1287110.jpg

Malam kian larut, hujan pun tak kunjung reda, kurang lebih jam 20.30 malam, tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita. Dalam suasana hening, tak ada satu pun teman di kost, yang kala itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Tak ada tanda lampu segera menyala, mulai saya beranjak keluar kamar .

 

Semua lampu di kota kecil ini padam, awan hitam pun tak memberikan kesempatan pada sang bulan menyinari bumi. Saya tertatih menuruni tangga, keluar dari ruang pengap nan sunyi.

Sesampainya di emperan depan indekost, jalan raya penghubung Solo-Semarang ramai kendaraan berlalu-lalang. Sesekali bias cahaya lampu mobil menerobos lebat hujan hingga wajah, desau angin ramaikan malam kesendirian.

Termenung menatap beragam keelokan dunia ini, langit hitam dan tetesan air hujan sangat menakjubkan. Ia lah penghibur sejati di kala hati gundah, merana dan sebagainya. Namun, selang beberapa menit, tiba-tiba pandangan berubah, mata tergoda rumah depan kost.

Rumah itu menempati satu petak lahan, membuat hati bertanya-tanya. Tanpa penghuni….?

Dinding tembok retak-retak dan jendela kaca bolong, wajar terkesan menyeramkan. Bila sekilas teramati.

Tapi…? Saya larut olehnya….

Angin menyapu daun-daun berserakan di jalan. Saya tertegun menatap rumah tanpa penghuni itu, lirih kata keluar dari mulut…?

“Ia tak ubahnya dada pengap pada diri manusia yang tak memiliki harumnya bunga dan warna-warninya cat pagar.”

Sekalipun rumah itu jelek, barangkali akan lain kalau ada yang merawatnya. diisi aneka hiasan, misal bunga diletakkan di beranda depan rumah. Suasananya lebih menghidupkan, apalagi jendela seringkali di buka di kala sang fajar menampakkan diri. Hembusan angin pun akan menghusap pengap melekat pada dinding-dinding.

Kurang lebih 30-an menit saya tertegun di emperan. Hanya ditemani satu batang rokok Jarum 76 untuk saya hisap. Belum jua tanda lampu di kota yang letaknya di kaki gunung Merbabu segera menyala. Malam kian larut, udara pun semakin tak bersahabat.

Layaknya rumah kosong itu pula jiwa ini, kerapkali melawan derasnya hujan dan teriknya sinar matahari di siang hari. Yang tinggal menantikan robohnya saja, tiang-tiangnya telah lapuk, kalau gak dimakan rayap-rayap.

Mata mulai perih, gak tahu kenapa, mulai lah saya bangkit dari tempat duduk. Saya gerak-gerakkan pergelangan tangan, sambil jalan menyusuri ruang gelap menuju kamar. Saya nyalakan korek untuk menerangi ruangan. Melihat-lihat pintu kamar berjajar milik temen-temen kost. Rasanya aman, saya bergegas menuju kamar di lantai atas.

Pintu kamar telah terbuka, saya masuki ruang gelap nan pengap itu lagi. Tubuh kembali terasa hangat, dibandingkan di luar tadi. Saya baringkan tubuh di atas kasur keras, dan sebagian basah terkena air hujan melewati sela-sela genting.

            Tak lama, saya dikagetkan nyala lampu kamar. Urung lah tidur, bukan kebiasaan saya tidur saat ini. Ketika di kost saya habiskan buka internet, sebelum mengawali hari-hari utama menuliskan sesuatu tentang hidup. Dengan begini, saya terhibur, bahkan kian menuntun menuju cita-cita.

 

“Saya tulis pada sebuah malam, saat lampu padam, sendiri”

 


Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s