Senyum Mengembang

att1287106.jpg

Oleh: Bambang Triyono

Kira-kira tengah malam telepon genggamku berdering setelah itu aku buka sms, rupanya si bungsu yang mengirimnya. Isi pesan tersebut memberitahukan kalau uang buat transport di Jakarta habis. Maka ia meminta aku untuk mencarikan uang. Usai membaca sms aku langsung terperangah menatap jauh kebelantara angan.

Si bungsu bernama Jaka Sri Handoyo, saat ini dia bekerja di Purwacaraka Jakarta. Dan, sebagai salah satu gitaris Cendana band yang baru saja meluncurkan album perdana, 28 Maret 08 lalu. Meski ia kini telah bekerja. Namun belum ada masukan yang cukup, karena masih baru di sana.

Hari larut malam itu aku hanya berfikir tak ada jalan lain kecuali menunggu esuknya. Tak heran aku pun hanya bisa diam dan tertegun sambil mencari-cari jalan akal, agar besuk mendapatkan pinjaman entah dari siapapun.

Justru aku terngiang masa lalu, barangkali akan lebih mudah kalau aku masih bekerja di Koran Komunitas saat itu, maka aku tidak susah-susah cari pinjaman orang lain, cukup di tempatku bekerja.

Namun, karena kini hanya menjadi pengangguran apa boleh buat, aku hanya bisa berharap pinjam ke orang lain.

Sang waktu terus menggelinding sedangkan aku masih berburu cara untuk mengatasi masalah ini, dan anehnya tak ada satupun teman di indekos yang terdengar hanya deru mesin saja.

Adanya masalah yang sedang dihadapi si bungsu, justru mengingatkanku saat aku berada dalam pelarian ke Tangerang dan Bogor tahun 1999, karena diminta orang tua keluar dari kuliah di Jogja. Di perantauan aku merasa sedih kalau tidak ada uang sepeserpun. Dari pengalaman tersebut semakin menguatkan aku untuk segera membantu si bungsu.

Di pagi buta itu tiba-tiba anganku terlintas seorang dosen Fakultas Hukum UKSW, namanya Krishna Djaja Darumurti. Dalam hatiku berkata, “aku coba saja besuk pinjam mas Krishna, siapa tahu dia lagi punya uang,”.

Seketika itu aku terasa lega, karena sudah ada bayangang yang akan aku tuju, meski belum pasti ada.

Kemudian aku tertidur di atas kasur keras nan kusam.

Pukul 11.30 siang, aku baru bangun, setelah itu aku mandi.

Usai membersihkan badan, aku mencoba melakoni sebagai seorang kakak yang mencoba untuk peduli terhadap seorang adik kandung. Pertama-tama yang aku tuju tak lain adalah mas Krishna, sesuai rencana semalam.

Aku mencoba menghubungi dia melalui sms, sekedar ingin mengetahui posisinya saja. “mas posisi di mana, saya mau ketemu?”, bunyi pesan singkat yang aku tulis itu.

Waktu itu dia tidak segera membalas, baru selang beberapa jam dia mengirim balasan “emangnya ada apa tho?” balasanya melalui sms.

“Anu mas, sebenarnya saya mau pinjam uang Rp. 500 ribu buat adik saya di Jakarta, dia kehabisan uang buat transport,” balasku.

Dia tak membalas, saking lamanya aku pergi meninggalkan indekost menuju kafe kampus, yakni tempat biasa ku nongkrong. Di kafe ini aku pesan kopi hitam dan dua batang rokok djarum, setelah itu aku duduk dibangku paling sudut.

Perasaanku saat itu selalu was-was, jangan-jangan mas Krishna tidak punya uang sebanyak itu.

Khawatir terus menghantuiku, mataku hanya tertuju pada gedung-gedung dan pepohonan yang ada di kampus. Ketika aku sedang melamun diiringi gerimis di luar kafe, aku dikagetkan dering hp yang aku taruh di atas meja.

Kemudian aku membuka isi pesan itu dengan perasaan kian tak menentu, “waduh!! saya gak ada uang, saya aja juga sedang cari pinjaman uang buat menghidupi partai.” Demikian isi sms-nya.

Setelah itu tubuhku seperti terpaku, sekedar untuk melerai kekecewaan kala itu aku hanya bisa pasrah.

Hari semakin sore, pukul 16.30, kafe sudah ditutup. Sebenarnya aku masih ingin duduk di kafe itu sambil mencari-cari jalan keluarnya lagi, tapi apa boleh buat di tempat tersebut aku bukanlah siapa-siapa.

Mengetahui hal itu aku berniat meninggalkan kafe pulang ke indekost. Dan sesampainya di indekost bayanganku selalu tertuju pada nasib si bungsu, hatiku selalu bertanya-tanya bagaimana kalau aku tidak segera mendapatkan uang hari ini juga…? Aku hanya bisa meratapi kesedihan.

Kemudian aku membaringkan tubuhku di atas kasur, dan semua lampu sengaja tidak aku nyalakan, persis seperti berada di kuburan, benar-benar aku menemui jalan buntu.

Dalam kegelapan tersebut aku sempat berfikir, bagaimana kalau komputer ini tak jual dulu…? Tapi, komputer itu renta. Selain itu, dengan Komputer ini biasa aku menulis berita atau sekedar cari-cari data diinternet. Rasanya sayang kalau aku jual. Dan, aku mengurungkan niat menjualnya.

Ada pula keinginan untuk menjual gitar peninggalan si bungsu. Serasa ada yang menahan, aku tak kuasa untuk melakukan semua ini. Bila di runut dari sejarahnya gitar ini sangat berharga di mata si bungsu, karena setiap menciptakan lagu ia seringkali memakai gitar ini.

Adzan magrib mulai terdengar, aku hanya mampu berkomat-kamit dalam pengap kamar, “ya tuhan apa yang harus saya perbuat, semoga si bungsu sabar dan tabah.” Sempat aku meneteskan sedikit air mata.

Usai adzan maghrib, aku dikagetkan kedatangan seorang teman, dia bernama Rudi Latuperisa atau biasa di sapa Opha. Selain teman nongrong di kafe, kita pernah sama-sama satu kost. Sekarang dia telah berkeluarga, memiliki satu anak, mereka tinggal di Ungaran.

Melihat lampu kamar tidak menyala, opha bertanya ke aku, “ono opo to mbang, kok lampu kamar kamu matiin, lagi stress yo…?” tanyanya.

Mengetahui opha berdiri dekat saklar aku minta dia untuk menyalakan lampu, dan lampupun menerangi kamar.

Opha memiliki tahi lalat yang menempel disamping hidung bagian kanan, rambutnya sudah keperak-perakkan, postur badan tinggi, ramah dan baik hati.

Dia selain sibuk mengurus kandang ayamnya, Opha juga menjadi dosen Fakultas Teknologi Informatika UKSW.

Perlahan-lahan sore berganti malam, kita larut dalam obrolan ringan, seringan makan kerupuk atau rambak.

Rupanya opha mengetahui kalau aku sedang bersedih, “ono opo tho mbang ketoke kowe lagi bersedih?” tanyanya lagi.

Aku meragu, setelah berfikir sejenak aku baru berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku senang opha cukup memahaminya, dan:

“Pha pinjamin uang 200 ribu aja buat si jack….” pintaku.

Opha senyum-senyum sambil garuk-garuk kepalnya, aku lihat dia mulai merogoh dompet di dalam saku celana. Kemudian dia memastikan sambil berkata “yo, kanggo adikmu kan?” “ya,” jawabku. Barangkali kalau buat aku belum tentu dikasihnya, soalnya aku sering minta uang.

Usai memberikan uang ke aku, dia bertanya “Lha piye ngirimnya…?” “Pinjam atm, kataku.

Padahal aku sendiri belum mengetahui mau pinjam atm siapa….

Ketika uang sudah ditanganku, muncul kebingungan, kata hatiku siapa ya atm yang bisa dipinjam barang sebentar…? Aku tertegun.

Saat itu aku diberi dua nomor rekening dari Jack, satu rekening BCA dan satunya lagi rekening BNI. Aku pun pura-pura tanya ke opha.

“Pha duwe atm BCA atau BNI?”tanyaku.

“Yo ra duwe, aku eneke cuman atm mandiri,” jawabnya.

Hari semakin malam, kurang lebih pukul 19.30 tanpa berfikir panjang aku berjalan di bawah rimbunnya pepohonan yang sesekali memberi keteduhan dalam guyuran hujan lebat.

Sesampainya di kampus, dalam hati kecilku muncul rasa malu, karena saat itu ada beberapa satpam yang mengawasiku. Sebenarnya aku mengenal mereka, sebaliknya juga mereka. Mungkin karena malam dengan kulitku yang tergolong hitam jadi tidak terlihat.

Mengetahui demikian aku langsung menyamperi mereka, dengan nadaku yang agak terbata-bata, pura-pura aku tanya “mas aku mau numpang transfer orang yang sedang ambil duit, kira-kira ada gak ya…?” Pada saat itu tubuhku sudah basah kuyup, sampai menggigil kedinginan.

Mereka rupanya irit berbicara, salah satu satpam hanya bilang, “ya tunggu aja di atm situ mas,”jawabnya.

Kemudian mereka kembali melakukan aktifitasnya berkeliling kampus.

Aku pun berlari mencari tempat berteduh, yang jaraknya tidak jauh dari atm BCA dan atm BNI. Di depan bank Lippo aku berdiri sambil sesekali melihat kedua atm tersebut, siapa tahu ada seseorang yang sedang ambil uang, lirihku.

Saat itu kampus begitu sepi, barangkali orang-orang malas keluar karena hujan hampir sehari semalam. Ada satu dua orang yang sebetulnya masuk ke ruang ukuran 1 X 2 meter itu, entah mengambil uang atau sekedar mengeceknya. Tapi saat itu lagi-lagi aku terbawa rasa malu, aku tidak tahu dari mana asalnya.

Baru, setelah berjam-jam aku menunggu, sambil mendamaikan rasa malu yang terus bergejolak. Tampak seorang laki-laki tua berjalan sambil menenteng tas hitam berjalan kearah atm BCA. Aku berusaha mendekatinya, sambil menahan rasa malu. Selanjutnya aku bertanya “om mau ambil uang ya?”tanyaku.

Seseorang yang berkumis tebal, kulit hitam, berkacamata dengan mengenakan kemeja bergaris coklat dan putih itu, seolah-olah matanya memplototi wajahku. Barangkali dia curiga, dengan kedatanganku yang tiba-tiba itu. Namun, aku tidak berkecil hati dan bergeser dari hadapannya, justru yang aku lakukan adalah untuk menyakinkan dia;

“Begini om adik saya di Jakarta minta dikirimi uang, dan saya tidak memiliki atm BCA, jadi saya minta tolong sama om untuk numpang transfer,” ujarku.

Perlahan-lahan matanya mulai meredup, mungkin merasa kasihan saja melihatku. Setelah itu dia berjalan masuk ke ruang atm, waktu itu dia masuk tanpa meninggalkan kata sepatahpun. Dengan begitu aku merasa sedikit kecewa kepadanya, melihat sikapnya demikian.

Herannya, selang beberapa menit aku dipanggil supaya mendekat. “kamu mau transfer berapa?” tanyanya ke aku.

“200 ribu om,”sahutku.

“Ya dah masuk aja sini,” pintanya.

Aku melihat dia memencet-mencet tombol atm, setelah itu dia menanyakan nomor rekening yang aku tuju. Dan aku membacakannya. Usai mentransfer uang 200 ribu aku serahkan kepadanya. Dia sambil memberikan tanda bukti transfer ke aku.

Seketika itu aku merasakan kegembiraan, berkat bantuan seorang bapak yang anonim uang dapat terkirim dengan cepat. Hubunganku berakhir di tempat situ aja, dan aku pergi meninggalkannya sambil berucap “terima kasih ya om,” ucapku. Dia membalasnya “sama-sama,” pungkasnya.

Setelah segala sesuatunya beres, aku pergi meninggalkan kampus sambil menyusuri jalan remang-remang disertai rintik-rintik hujan.

Sesampainya di indekost, rupanya opha masih di warung susunya pak Totok. Warung ini masih satu komplek dengan indekostku, dulu kita sering nongkrong bersama teman kost lainnya sambil ngopi, makan indomei dan minum susu murni.

Kebetulan sekali opha belum pulang Ungaran, dengan begitu aku bisa memperlihatkan tanda bukti transfer ke dia. “pha uang sudah aku transfer, ini tanda buktinya.” .

Dari mimik mukanya dia tampak ceria, anehnya dia tanpa sekata pun terucap, hanya senyum mengembang dari bibirnya. Kemudian tanda bukti itu dikembalikan lagi ke aku.

Dan, aku pamit untuk ganti baju.


Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

5 Balasan ke Senyum Mengembang

  1. djunaedird berkata:

    Rejeki itu datangnya tak disangka-sangka. Asal kita tulus, sabar, pasti akan datang apa yang kita inginkan.
    Semoga sukses.

  2. Bintang Raya berkata:

    trima kasih support’s-nya. barangkali rejeki itu sudah menjadi berkah buat adek saya. semoga dia juga baca tulisan di atas juga. biar dia selalu ingat bila suatu saat nanti menjadi orang besar juga tidak lupa bagaimana perjuangannya.

  3. lawankata berkata:

    Amien…
    Bukan RAIS lho..Heheheeee

  4. Meekaela berkata:

    Senangnya si bungsu punya kakak perhatian seperti ini… Semoga banyak berkah dan rejeki, biar bisa bantu membantu si bungsu. Salam kenal, -Mee-

  5. Bintang Raya berkata:

    buat mee: salam….trima kasih doanya, begitu pula mbak mee sukses n lancar juga ya…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s