In Memorian: Korban Longsor Tawangmangu

Rasa kami berlima saat itu begitu mencekam, ketika berada dilokasi tanah longsor di desa Tawangmangu, Kelurahan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Bayangkan, sedikitnya tiga puluh empat orang mati secara tragis tertimbun tanah, (Rabu 12 Desember 2007 lalu).

Pasca-gempa tepatnya tanggal 2 Januari 2008, kami menuju tempat kejadian, berhubung sampai di sana jam 11.00 malam, dan medan yang harus ditempuh begitu curam. Kami menunda perjalanan, akhirnya menginap di posko milik Forum Komunikasi Antar Masjid dan Masyarakat (FKAM).

Kami berlima, Iwan, Aan, Fajar, Supri dan saya sendiri bertujuan menyalurkan bantuan bagi para korban. Bantuan ini kami himpun dari sebagian warga Kodya Salatiga. Dari kebanyakan donatur memberi uang, kami sumbangkan dalam bentuk barang, seperti indomie, roti, air mineral dan selimut.

Sumbangan yang kami peroleh antara lain: Senin, tanggal 31 Desember 2007, sebesar Rp. 435.000,00. 1 Januari 2008, uang yang terkumpul Rp. 205.000,00. Sedangkan tanggal 2 Januari 2008, Rp. 275.000,00. Jadi uang yang terkumpul sebanyak Rp. 915.000,00.

Ada-pun pengeluarannya sebagai berikut, mie instant dan air mineral Rp. 383.500,-, selimut Rp. 288.000,-, roti Rp. 87. 500,- pulsa Im3 Rp. 22.000,00, foto copy Rp. 1.700,-, bensin Rp. 100.000,-, dan stempel Rp. 35.000,00. Jadi total pengeluarannya sebesar Rp. 917.700,00, defisit Rp. 2.700,-.

Kami berharap, sekecil apa-pun bantuan dari warga Salatiga, semoga dapat membantu mereka yang sedang terkena musibah. Kami ucapkan terima kasih kepada sebagian orang yang telah iklas mengulurkan bantuan, sehingga dapat meringankan beban derita bagi sesama.

Sekilas Forum Solidaritas Salatiga

Kala itu setelah ada salah satu seorang teman (bernama Iwan “Singo Jenaka”), yang mendengar ada bencana tanah longsor di wilayah Karanganyar. Ia bergegas menghubungi saya melalui via sms, isinya tak lain mengajak untuk membantu para korban. “hai mbang agar akhir tahun 2007 ada yang mengesankan, piye kalau kita membantu korban bencana di Tawangmangu.” Demikian pesan singkatnya.

Selanjutnya saya merespon dengan antusias, meski sempat mikir-mikir juga. Karena, bagaimana-pun kegiatan ini seumur-umur sekali saya lakukan. Kagetnya lagi, saya diminta oleh temen-temen menjadi koordinatornya.

Meskipun terkadang agak gagap mengurus segala sesuatunya, terkait berbagai hal, seperti membuat permohonan bantuan, mencari data-data diinternet dsb. Dapat dibilang menguras energi.

Penggalian dana itu, kami bagi dua, dua orang di Jalan Jenderal Sudirman (Iwan dan Aan), masuk kepertokooan. Dua orang lagi ke pejabat dan dosen (dari pintu ke pintu). Sebetulnya masih ada beberapa orang lagi yang mau membantu kami, meski hanya pada hari pertama saja.

Di hari pertama, begitu membuat pengalaman kami bertambah, ada beberapa masukan seperti dari salah seorang dosen UKSW, yakni Khrisna Djaja Darumurti, SH. Agar penggalian dana dianggap resmi oleh masyarakat surat permohonan ada stempel.

Seiring perjalanan waktu, maka tercetuslah Forum Solidaritas Salatiga, yang lahir pada tanggal 2 Januari 2008 lalu. Bersamaan itu pula sebenarnya kami bertekad ke depan untuk melanjutkan beberap agenda terkait hal yang sama.

Rabu, 9 Desember 2007, Koordinator Forum Solidaritas Salatiga

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke In Memorian: Korban Longsor Tawangmangu

  1. Aan berkata:

    gondesssss.hehehhe namaku kurang besar kasih font ukuran 36. hehehehehehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s