Obrolan Sastra

Oleh : Bambang Triyono

Sore hari mendung merebah di atas kota Semarang, ketika itu aku baru saja turun dari bus yang aku tumpangi, seusai melakukan perjalanan dari Salatiga. Selanjutnya kuayunkan kaki menuju sebuah kafe es krim yang letaknya di sebelah timur dekat pintu masuk Java mall. Di situ sudah ada seorang teman menungguku. 

Seseorang itu tak lain adalah Yunantio Adi Setyawan atau disapa Yas. Ia bekerja di Media Harian Suara Merdeka sebagai seorang wartawan.

Hari semakin gelap lampu-lampu kota mulai menyala, dan kumandang adzan maghrib terdengar bersaut-sautan. Suara adzan itu mengalahkan kebisingan kota yang tadinya hanya terdengar bunyi mesin menderu-deru.

Aku dan Yas belum bergeser dari tempat semula, masih menikmati secangkir es milo sambil cerita-cerita.

Pertemuan itu sebelumnya telah kita rencanakan terlebih dahulu, yakni ingin mengikuti acara parede obrolan sastra di Pondok Maos Guyup, Jl. Raya Bebengan 221, Boja, Kendal, Semarang, (Sabtu, 3 Mei 2008).

Setelah Adzan maghrib berhenti, kami pergi meninggalkan java mall akan melanjutkan perjalanan menuju Boja, dengan mengendarai sepeda motor Kawasaki warna hitam.

Di sepanjang perjalanan keindahan Semarang kota tampak dari jalan yang membelah perbukitan arah Boja. Terutama kerlap-kerlip cahaya lampu kotanya yang memancar seperti bintang di angkasa.

Kurang lebih 45 menit berjalan, Yas mulai memperlambat laju motornya. Kepalanya yang tertutup helm warna hitam selalu menengok sebelah kiri jalan. Dan, aku pun hanya bertanya seperlunya saja.

“Meh tekan tho mas…?” tanyaku.

“Iyo, tapi aku agak lupa,” jawabnya.

“o…,” gumanku.

Karena tempat yang kita tuju tak jua ketemu, Yas pun terpaksa menghentikan motornya, tepat disamping seseorang yang sedang memparkir kendaraan di tepi jalan, kemudian ia bertanya sesuatu.

“Pak, terminal Boja itu sebelah mana?” Tanya Yas.

“Trus, lurus aja mas,” bapak itu sambil mengarahkan tangannya ke arah depan.

“Terima kasih pak,” ucap Yas.

“Mari,” balasnya.

Kita pun melanjutkan perjalanan lagi kearah seperti yang ditunjukan bapak tersebut. Tak lama kemudian terminal Boja sudah terlihat di samping kiri jalan. Anehnya, Yas terus menggeber motornya.

Kurang lebih 10 menit dari terminal, tiba-tiba Yas menghentikan motornya.

Mataku menatap depan rumah milik seseorang yang terdapat spanduk berwarna putih bertuliskan “Selamat Datang Para Peserta parade Obrolan Sastra”, dan satunya lagi spanduk warna biru bertuliskan “Suara Merdeka”.

“Barangkali ini tempatnya,” lirih dalam hatiku.

Aku turun dari sepeda motor, sedangkan Yas memparkir motornya terlebih dahulu di seberang jalan, di emperan ruko kosong.

Setelah itu aku dan Yas berjalan bersama-sama menaiki undak-undakan yang tidak terlalu tinggi. Di lobi terlihat beberapa orang sedang bersantai-santai sambil bermain musik.

Tepat di depan pintu, kita berhenti sejenak. Setelah itu mataku tertuju ke dalam ruang tamu yang tidak begitu luas, di situ ada beberapa orang sedang baca buku, adapula yang sekedar melihat-lihat buku bacaan di rak.

Dinding tembok warna putih kusam itu selain melekat rak buku, juga melekat poster di atasnya. kebanyakan poster wajah tokoh sastrawan dari berbagai penjuru dunia. Seperti, Hans Christian Anderson, Fernando Pessoa, Najib Machfus, F. Scott Fitzgerald, Albert Camus, Samuel Beckett, Christa Wolf Suhrkamp, Umberto Eco Hanser. Tertempel pula poster wajah mantan wakil presiden Republik Indonesia Mohammad Hatta.

Kemudian kita didatangi seorang pemuda dan ia mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Sebelumnya Yas pernah bercerita kalau ia terlebih dahulu sudah saling mengenal sejak lama, ketika keduanya masih sama-sama menjadi aktifis mahasiswa.

“Bambang, dari Scientiarum UKSW”, kataku.

“Sigit,” katanya.

Yas langsung menuju kamar dibuntuti Sigit dibelakangnya. kelihatannya Yas ingin menaruh tas rangsel bawaannya.

Sedangkan aku duduk di ruang tamu bersama beberapa orang yang belum ku kenal sama sekali. Aku pun memberanikan diri menyalami mereka satu persatu sambil memperkenalkan diri.

“Kenalin mas, bambang dari Salatiga.”

“Wayan”, kata seorang pemuda berambut gondrong itu.

Selanjutnya, ada Stevi Sundah, kelahiran Menado berserta Istrinya bernama Siti Mariam Ghozali atau lebih dikenal Maria Bo Niok dalam karya novelnya. Mereka berdua saat ini berdomisili di Wonosobo, mengelola sebuah komunitas bernama Istana Rumbia.

Istana Rumbia adalah suatu organisasi komunitas yang bergerak di bidang advokasi buruh-migran, dan pengelolaan perpustakaan untuk masyarakat setempat.

Stevi orangnya tinggi besar, memakai kaca mata lumayan tebal, rambutnya lurus membelah ke kiri dan kanan, berjenggot kurang lebih 5 cm. Sedangkan istrinya gemuk kekar, katanya sih hobi taekwondo.

Sigit dan Yas kembali, kemudian Sigit meminta untuk segera berangkat menuju SMA Negeri I Boja.

Kurang lebih 5 menit kami sampai di lobi kantor SMA Negeri I Boja, di sana para siswa dan guru sudah menunggu kedatangan kami. Mereka kebanyakan perempuan yang mengenakan kaos warna hitam.

Selanjutnya, seorang pemuda tinggi tegap, yang kulitnya agak hitam dengan rambut cepak mempersilahkan kami duduk. Ia merupakan guru bahasa yang bernama Nurhadi, selain itu Ia juga pembimbing sastra Tetas.

Sastra Tetas adalah nama kelompok teater yang anggotanya terdiri dari siswa-siswi sekolah setempat.

Ruangan yang dipakai pertemuan diskusi itu telah didekor sedemikian apik, kain warna hitam membentang dari satu sudut ke sudut lainnya. Sedangkan di tengahnya terdapat kain kotak-kotak kecil warna hitan putih, persis kain yang sering dikenakan penari-penari dari Bali.

Hadi berdiri dengan speaker ditangannya, ia memberikan kata sambutan tanda dimulainya diskusi puisi malam itu. Kegiatan ini merupakan satu agenda parade obrolan sastra dihari pertama.

Usai memberikan sambutan, Hadi bergabung bersama kami lagi. Dari salah satu siswi mematikan lampu utama, maka tersisa satu lampu yang menjorok ke depan mengarah ke panggung, suasana malam pun menjadi remang-remang.

Muncul dari balik layar tiga perempuan mengenakan kaos hitam, mereka berjalan pelan-pelan dengan secarik kertas putih ditangannya. Satu-persatu ketiganya membacakan puisi penuh kidmad, yang diiringi petikan dawai gitar.

Usai membacakan puisi karya Nurhadi atau dalam karya-karyanya bernama Nugroho Hadi, tepuk tangan riuh pun berkumandang memenuhi ruangan.

Pembacaan puisi masih berlanjut, menginjak sesi kedua yang sudah berlangsung beberapa menit itu, tiba-tiba Yas mendatangiku mengajak keluar cari makan.

“Mbang, mangan yo”, ajaknya,

Ia mengatakan demikian sambil tangannya menyentuh pundakku.

“Ya bentar lagi mas,” pintaku.

Aku berkata demikian karena aku sedang berbicara dengan Nurhadi. Yas terus membujuk, akhirnya aku menurutinya berhubung aku sendiri juga lapar.

Sampai depan pintu gerbang SMA, aku melihat jalanan mulai sepi. Kita berniat makan di rumahnya Sigit. Entah kenapa tiba-tiba Yas setelah sampai di rumahnya Sigit membatalkannya. Sejenak kemudian kita melihat sekeliling, dan mata kita tertuju pada sebuah warung templek diseberang jalan itu.

Kaki pun melangkah menuju warung makan yang kita tuju, aku melihat warung itu mulai dari tiang, jendela sampai dinding-dindingnya terbuat dari bambu.

Di dalam ruangan terdengar alunan musik gending-gending jawa, aku jadi teringat suasana seperti di keraton Jogja dan Solo.

Seorang bapak yang mengenakan kaos warna putih, berlengan merah dangan celana katun warna hitam, mempersilahkan kita.

“Monggo mas,” katanya.

Yas dan aku mendekati menu-menu yang tersedia, kemudian seorang bapak itu berkata lagi.

“Bade pesen nopo mas?”

“Rica-rica ayam”, sahut Yas.

“Kamu apa mbang”, tanyanya.

“Ayam goreng aja lah mas,” jawabku.

Usai pesan, kemudian kita duduk dibangku samping pintu masuk, di atas meja terdapat makanan cemilan, seperti kerupuk, keripik bayam. Sedangkan minumannya coca-cola dan fanta.

Makanan pesanan Yas sudah datang.

Bapak itu menaruh satu piring nasi putih dan satu mangkok rica-rica ayam tepat dihadapan Yas, kemudian lelaki tengah baya itu berkata.

“Minumnya apa,” menawarinya.

“Teh Tawar”, kata Yas.

“Mas e?” Sambil menengok mukaku.

“Sama pak,” bilangku.

Ia pun kembali kebelakang, kemudian aku lihat bapak itu mulai menyalakan kompor gas.

Perlahan-lahan bapak itu masih saja membolak-balik paha ayam di penggorengan. Sedangkan Yas tak kunjung makan, justru ia malah pencet-pencet handphon-nya.

Kurang lebih 10 menit pesananku baru datang.

Penjual itu dengan mempakai baki yang di dalamnya terdapat satu piring nasi putih, cobek berisi paha ayam, lalapan dan sambal ditaruh di atas mejaku.

“Terima kasih pak,” ucapku.

Ia-pun menganggukkan kepalanya.

Setelah semua makanan sudah tersaji di atas meja, kami berdua mulai makan sambil cerita “ngalor-ngidol”. Semua makanan pun habis kita lahap, dan makan malam hari itu berakhir.

Aku dan Yas kembali lagi ke SMA Negeri I Boja.

Di situ sesi diskusi puisi sudah dimulai, Yas dan aku bergabung duduk di antara peserta lain. Di depan tampak Wayan Sunarta menyampaikan materi diskusi, Yang ditemani Nurhadi sebagai moderatornya.

Wayan Sunarta atau biasa disapa jengki merupakan alumni jurusan Antropologi, Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali, tahun 2000 lalu. Sempat pula mencicipi seni rupa di Institut Seni Indonesia Denpasar (2002-2003).

Remaja berambut gondrong dan telinga beranting ini, saat memberikan materi ia duduk bersila dengan kedua tangannya ditaruh di atas meja kecil. Orangnya kalem, kulitnya coklat sawo matang, tidak terlalu tinggi. Ia mengenakan stelan jeans warna biru.

Menginjak sesi Tanya-jawab, banyak peserta yang antusias untuk bertanya. Dari yang terekam saat itu, seorang siswi bertanya ke Wayan soal puisi agar digemari kaum anak-anak dan remaja era sekarang.

“Bagaimana mengupayakan puisi agar digemari oleh banyak kalangan terutama anak-anak dan remaja di era sekarang?” tanyanya.

“Pertanyaan yang bagus,” sahut wayan.

“Ya itu tadi, caranya dengan musikalitas puisi. Itu artinya memasyarakatkan puisi dengan musik, karena musik sifatnya universal,” jawab Wayan.

Di tengah acara diskusi moderator mengusulkan “bagaimana kalau sesi ini berhenti sejenak, untuk mengendorkan saraf-saraf yang tegang,” usulnya.

Para peserta pun menyetujuinya.

Semua yang hadir dijamu makanan ringan alakadarnya, seperti kacang dan roti. minumannya teh manis dan air putih.

Disesi istirahat peserta disuguhi beberapa pembacaan puisi dari Wayan dan Nurhadi. Hal itu, dilakukan setelah ada seorang peserta mengusulkannya.

Setelah pembacaan puisi berakhir, maka kembali lagi ke acara semula.

Dipenghujung acara aku menyempatkan diri bertanya-tanya pada seorang siswi yang duduk disampingku. Seorang siswi ini bernama Oktavia, anak kelas XI Bahasa.

“Kenapa anda menggemari dunia sastra?” Tanyaku.

“Pengin menyumbangkan bakat dan mengasah bahasa,” jawab Okta.

Mulai belajar teater sejak kapan?”

“Sejak SMA,” tegasnya.

Ia mengaku semenjak mengikuti teater di sekolahnya dapat mengekspresikan emosinya.

“Dengan teater mengekspresikan emosi saya, kita dapat mencurahkan perasaan-perasaan,” ujar Okta.

Gadis yang baru berkembang ini memiliki wajah cantik, berpostur badan tinggi, kulit putih dan rambut panjang lurus dibiarkan tergerai itu, telah meraih beberapa prestasi. Di antaranya, ia pernah mendapat juara III lomba ekting se-Jateng. Dan, bersama rekan-rekannya di teater Tetas sebagai nominasi pembantu terbaik teater pelajar se-Jateng.

Diskusi puisi berakhir jam 23.30-an. Ditandai dengan ditutupnya acara oleh moderator sambil memberikan beberapa pengumuman yang ditujukan kepada para siswa-siswi SMA Negeri I Boja.

Aku pun bersama Stevi dan Maria pulang ke rumah Sigit. Sedangkan Yas terlebih dahulu meninggalkan kami sejak tadi.

Sesampainya di rumah Sigit kami duduk di ruang tamu sambil melepas rasa letih. Di tempat itu pula aku mengambil secangkir air putih untuk ku tenggak. Sedangkan Stevi terlihat memilah-milah buku di rak, ia menemukan buku Koping Ho. Mendadak ia memberitahukan kepada istrinya.

“Mar ini ada buku yang kau gemari.” Maria pun terlihat “sumringah” setelah Stevi memberitahukannya, ia pun buru-buru segera ingin membacanya.

Sejenak Maria mengamati-amati buku cerita silat yang telah kusam itu, tapi ia tidak segera membacanya, Cuma dilihat sekilas saja, justru ia mengajak aku bermain catur.

“Bisa main catur,” tanyanya.

“Sedikit,” jawabku.

“Main yuk,” pintanya.

“Emangnya ada mbak,”

“Ada, tu di luar,” tunjuknya.

Aku pun pergi ke luar mengambil papan catur. Tak lama kemudian aku kembali lagi sambil membawa papan catur. Setelah itu satu persatu bidak catur kita tata, Maria memakai warna putih dan aku warna hitam.

Bidak catur mulai kita jalankan ke sana-kemari, melawan Maria tidak seperti yang aku bayangkan, ia begitu cerdik sampai akhirnya aku terdesak. Tak butuh waktu lama ia-pun mengalahkanku. Dalam hati sebenarnya aku malu, tapi apa boleh buat.

Tiga kali pertandingan berturut-turut aku dibuat kelabakan oleh-nya. Aku minta diakhiri saja, dengan alasan pengin istirahat.

Pukul 24.30 malam Sigit pulang, ia mengenakan kaos warna biru, bertuliskan Bali.

“Mas, lha Wayan mana,” tanya Stevi.

“Dia masih bersama anak-anak tadi dan Nurhadi,” jawabnya.

Sebaliknya Sigit juga bertanya.

“Adi endi?” tanyanya.

“Gak tahu mas,” bilangku.

Selanjutnya Ia mencari disetiap kamar, tak lama kemudian ia sudah kembali lagi.

“Ada mas,” tanyaku.

“ Di kamar belakang,”jawab Sigit.

Sigit pun ikutan nimbrung duduk bersama-sama kami, baru selang beberapa menit, kemudian ia mengatakan kalau acara besuk paginya akan semeriah tadi.

Setelah berbicara panjang lebar, tak ku sangka Sigit mengajak kami ke ruang sebelah. Di situ ia memilah-milah poster untuk kemudian diberikan ke kami.

Ia berpesan ke aku, “posternya dipasang di Scientiarum ya, biar awet di kasih papan dan plastik”.

“Iya mas,” jawabku.

Usai memberikan beberapa poster kita semua kembali ke ruangan semula. Aku lihat Stevi minta untuk dibuatkan kopi pada seseorang.

Kopi pun datang dan disuguhkan ke kami, Stevi segera mengambil satu cangkir kopi demikian pula Maria dan aku.

Hari menjelang pagi aku meminta waktu kepada Sigit untuk bertanya seputar aktifitasnya sebagai seorang penulis. Siapa tahu ada pembelajaran yang dapat aku peroleh darinya.

Maria yang saat itu sudah mulai ngantuk, ijin terlebih dahulu untuk tidur.

Tinggal kami bertiga, mulai lah aku menyodorkan pertanyaan-pertanyaan kepada Sigit.

Sebagai pembuka aku bertanya sejak kapan ia mengenal Yas?

“Sejak masih menjadi aktifis mahasiswa di Akademi Bahasa Asing, kala itu kita sering berhubungan melalui milis di internet,” jawabnya.

Ketika mulai bertanya mengenai dunia Sastra, tiba-tiba semua mata tertuju ke arah pintu, rupanya mereka menyambut kedatangan Wayan. Dibelakang Wayan tampak pak Steven yang menenteng sebuah gitar. Dan, juga seorang pemuda bernama Latto Moga Uchikawa.

Suasana pagi buta itu kembali ramai ketika pak Steven mulai memainkan beberapa buah musik klasik. Dan, nampaknya Wayan yang duduk disampinya terkesima melihat dawai-dawai gitar yang dipetik olehnya.

Suasana kembali tenang, aku kembali mengorek pengalaman-pengalaman Sigit semasa ia berkeliling dunia.

Sigit awalnya bekerja menjadi guide bahasa Jerman di Bali. Kemudian ia mengenal cewek Swiss bernama Claudia Beck, dan keduanya berlanjut menjadi pasangan suami-istri sampai sekarang. Mereka kini menetap di Swiss. Di negera tersebut Sigit menjadi tukang masak hamburger di restoran.

Baru sekali aku bertemu dengan Sigit, tentunya suatu keberuntungan tersendiri bagiku.

Bagaimana tidak…? Gumanku.

Dari segudang pengalamannya, aku perlu belajar sesuatu darinya. Apalagi dunia sastra seperti yang ia geluti termasuk salah satu bidang yang sedang aku pelajari.

Selama ini ia menggemari tema-tema yang berbau politik, budaya, dan sastra. Maka tidak lah heran tujuan awal melakukan perjalanan keliling dunia yang pertama-tama ia mengkunjungi ke negara-negara komunis, seperti Cuba dan Rusia.

Ia juga menuliskan adat suku Maya di Meksiko. Demikian pula dalam bidang sastra, ia memunculkan sosok melankolis Frans Kafka.

Catatan perjalanan itu ia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul “Menyusuri Lorong Lorong Dunia (MLLD) Jilid 1.

Sigit saat itu sambil meperagakan senam yoga, kian bergairah ketika ia mulai menyinggung sosok James Joyce, penulis Ulysses.

Sigit mengatakan akhir-akhir ini selain sibuk jalan-jalan keliling dunia, waktunya juga ia selingi dengan menerjamahkan buku setebal 900-an halaman itu ke dalam bahasa Indonesia.

Ketenaran James Joyce disuguhkan Sigit di buku MLLD Jilid 2. Yang baru saja diterbitkan bulan Maret lalu.

Di terbitan buku kedua ia bersama istrinya pergi ke beberapa negara Asia, seperti ke Vietnam dan China. Saat di Hanoi ibu kota Vietnam salah satunya ia mengunjungi rumah Ho Chi Minh.

”Di depan rumah Ho Chi Minh ada dua pohon kelapa yang berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Cerita punya cerita Sigit pun mengakhiri pembicaraannya.

Wayan keburu ingin tidur, demikian pula Sigit. Mengetahui hal itu pak Steven pulang meninggalkan kami terlebih dahulu.

Aku masih ingin mengingat-ingat apa yang barusan disampaikan sigit, sekedar merenungkannya saja. Sedangkan Stevi yang duduk dihadapanku terlihat menikmati buku bacaannya.

Kira-kira Pukul 2.30 pagi, Wayan menuju kamar yang telah disediakan tuan rumah. Jadi tinggal kami berempat yang tetap bertahan meski dingin terasa menikam.

Sedangkan Latto yang awalnya banyak diam mencoba membuka diri dengan memberikan sebuah buku hasil karyanya. Aku lihat sampul buku itu berwarna merah jambu terdapat gambar bunga, dan tepat ditengah ada foto dirinya.

“Mas coba dicek buku saya ini,” pintanya.

Saat itu ia sambil memberikan buku itu kepada Sigit.

Aku lihat Sigit membuka lembar demi lembar, sebentar kemudian Sigit memberi penilaian.

“Wah bagus ni, kamu yang buat sendiri ya,” pujinya.

“Ia mas, buku ini hasil catatan harian saya,” lanjut Latto.

“Iay out-nya juga kamu?” Tanya Sigit.

“Iya,”celetuk Latto.

“cetaknya pie?”

“Waktu itu saya Bantu-bantu di asrama membenahi tinta print, saat petugas pergi saya manfaatkan aja dulu,” terangnya.

Ia bilang demikian sambil cengar-cengir.

Dan, kami bertiga hanya geleng-geleng kepala saja.

Sigit terus bertanya.

“Kamu tahu di sini ada acara dari mana?” lanjut Sigit.

“Tahu dari internet,” jawabnya.

Dingin kian terasa dan adzan subuh terdengar dari kejauhan, Sigit pun menyusul Wayan untuk tidur satu ranjang. Demikian Latto telah merebahkan tubuhnya di atas karpet warna biru itu.

Berhubung tinggal kita berdua, selain membuka-buka buku yang ditulis Sigit, aku juga mencoba bertukar pengalaman dengan Stevi terutama mengenai filsafat.

Omong punya omong tiba dipenghujung pertemuan yang semalam suntuk itu, Stevi pun pamit tidur. Dan, aku pun bergegas menyusul Yas di kamar paling belakang.

Pagi harinya Sigit meng-organisir para peserta yang akan jalan-jalan dengan mengendarai sepeda onthel. Kegiatan itu dimaksudkan agar nantinya peserta yang kebanyakan masih anak-anak dan remaja itu lebih mengenali perkampungan dan sekitarnya.

Pagi hari itu aku terkesan dengan adanya tulisan “Sastra Sepeda”, yang menempel di spackbord belakang milik para peserta.

Setelah turut menghantarkan keberangkatan mereka, kemudian aku dan Yas pulang.

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s