Menghidupkan Scientiarum

Oleh: Bambang Triyono

 

Mencoba memahami diri menjadi seorang mahasiswa, aku memiliki keingintahuan yang tinggi. Terbukti Di kala Lembaga Pers Mahasiswa di UKSW mati suri, aku memberanikan diri untuk membangun kembali sebuah pers mahasiswa yang tidak semata-mata hidup segan mati tak mau. Meski sebelumnya aku tidak memahami seluk-beluk dunia jurnalisme.

Tahun 2003- aku menjadi Ketua Bidang III Lembaga Kemahasiswaan Universitas (LKU) UKSW. Berawal dari sini aku mengenal banyak teman-teman mahasiswa terutama yang menjadi aktifis kampus. Pada tahun itu pula, aku baru mengetahui kalau di kampus ada pers mahasiswa bernama Scientiarum (SA).

Saat itu SA pemimpin redaksinya Hilda Anastasia, sedangkan anggotanya terdiri dari Rudi Lattu Perisa (Opha), Yunantyo Adi Setyawan (Adi Demo), dan Paulus Pisa Ardo Wirawan (Singo Jenaka). Tapi sayang, entah kenapa Scientiarum hanya terbit sekali pada masa itu. Setelah itu bubar.

Usai bertugas di LKU, aktifitasku sehari-hari seringkali hanya nongkrong di kafe kampus bersama teman-teman aktifis lain. Selain itu aku juga terlibat dalam forum-forum diskusi kampus dan luar kampus. Demo pun pernah aku lakukan hitung-hitung refreshing, seperti kami mengkritisi kasus korupsi SPBU tingkir, PDAM, kasus buku BP dsb. Sedangkan di dalam kampus demo peleburan fakultas FIP ke FKIP dan demo trimester.

Seiring berjalannya waktu, teman-teman yang biasa nongkrong bareng satu persatu pergi. Mereka ada yang karena lulus, tapi adapula di-Dropout (DO). Sistem Do ini berlaku semenjak rektorat mengeluarkan kebijakan baru mengenai batas studi. Intinya bagi mahasiswa yang kuliahnya lebih dari 7 tahun terpaksa dikeluarkan, kecuali bagi mahasiswa skripsi.

Perasaan sunyi dan sepi itu terjadi mulai dari tahun 2004 akhir. Dan suasana itu membuat aku semakin terasing di kampus sendiri.

Tahun 2005-hidupku kian tak menentu, banyak masalah yang aku hadapi saat itu. Mulai dari urusan perut sampai kebutuhan perkuliahan benar-benar terhambat. Menyadari aku banyak masalah, sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun aku bertahan hidup dengan caraku sendiri. Entah minta atau pinjam uang keteman, dan kebeberapa dosen pula.

Pergumulan hidup itu membimbingku menuju pencerahan diri, bagaimana untuk bangkit dari keterpurukan…? Pertanyaan ini seringkali muncul ketika aku sedang mengalami tekanan batin.

Tiba pada suatu sore hari, menjelang maghrib aku merasakan gejolak diri yang sulit terbendung. Tiba-tiba pikiranku tercletuk keinginan untuk menulis, kemudian akan aku coba masukan ke berbagai koran atau majalah. Berharap dapat penghasilan dari menulis.

Namun, keinginan itu terus terngiang-ngiang di atas umbun-umbun, hingga aku tak kuasa ingin teriak.

Hari demi hari aku lalui, berlatih dan selalu mencoba menuliskan sesuatu hal yang terlintas aku kerjakan. Tapi sayangnya setiap kali aku mengirimkan beberapa naskah ke redaksi koran harian, tidak sekalipun pernah dimuat. Sampai aku hampir mau putus asa dibuatnya.

Aku menyadari, barangkali masih banyak kekurangannya, aku mulai mencari-cari jalan lain agar menulis yang serasa sudah menjadi kebutuhan terus tersalurkan.

Kira-kira dipertengahan tahun 2005, pergumulan yang ada dalam hidupku terjawab. Aku teringat dengan nama SA yang pernah ada di lingkungan kampus. Semenjak itu pikiranku tercurah untuk menghidupkan kembali pers mahasiswa ini. Hitung-hitung sambil mencari kesibukan dari pada datang ke kampus setelah itu nongrong di kafe.

Masih tahun yang sama, pergantian pucuk pimpinan universitas yang saat itu John Titally digantikan Khris Herawan Timotius. Dengan adanya momen tersebut aku manfaatkan untuk melobi kebeberapa pihak terkait. Tapi sebelumnya aku terlebih dahulu telah mempersiapkan konsep dan proposal terkait penerbitan SA.

Suatu kebetulan, ketika aku duduk di kafe kampus tiba-tiba ada seorang dosen dari Fakultas Hukum memanggilku. Namanya Umbu Rauta, saat itu dia calon kuat Wakil Rektor III, tinggal menunggu pelantikannya saja.

“Apa benar kamu mau menghidupkan kembali Scientiarum?” tanyanya.

“Benar pak,” jawabku.

“Ya kalau kamu benar-benar sekarang u tantang, bagaimana terbit pertama saat Dies Natalis dan pelantikan rektor?” Ujar umbu.

“Saya usahakan,” begitu jawabku.

Omong punya omong terakhir ia mengatakan agar aku segar datang ke kantornya, sekalian bawa proposal penerbitan.

Tidak berhenti sampai di situ, saat itu yang aku pikirkan segera mencari teman yang bisa diajak bekerjasama. Waktu itu termasuk susah mencari kawan yang mau di ajak bekerja, baru setelah beberapa minggu aku ketemu teman nongkrong di kafe, kemudian aku ajak mereka menghidupkan SA.

Mereka adalah Dian Ade Permana, Bambang Aji Susilo dan Maria Novita. Kami berempat ini lah yang benar-benar merasakan suka duka menghidupkan pers mahasiswa. Rasanya belum lengkap apabila redaksi tidak ada layoutter-nya, berkat bantuan Izzak Lattu (Chaken) memberitahukan kalau ada seorang temannya bisa diandalkan di posisi tersebut.

Teman Chaken yang dimaksud adalah Willy Corputty, yang saat itu sudah bekerja di Biro bagian promosi.

Dian Ade Permana adalah mahasiswa Fakultas Sosiologi dan Politik, ketika di SA menjabat sebagai wartawan sekaligus cerpenis. Sosoknya humoris, seringkali rambutnya dibikin gimbal ala Bob Marley, ia sering kali berpakaian kusut-kusut, celana jin robek-robek .

Bambang Aji Susilo dari fakultas yang sama, tapi beda jurusan. Aji mahasiswa jurusan komunikasi angkatan 2004, di SA berposisi sebagai wartawan. Banyak orang bilang Aji ini mirip kak Seto (Ketua Komisi Perlindungan Anak), kacamatanya tebal, bila berpenampilan selalu rapi.

Maria Novita atau biasa dipanggil Tata, adalah mahasiswa Fakultas Psikologi. Saat itu ia satu-satunya jurnalis dari kaum hawa. Yang menonjol dari dia, kulitnya kuning langsat, rambut panjang tergerai, tingginya ideal perempuan Indonesia, meski agak gemuk. Jasanya tak lain, Tata seringkali meminjamin laptop dan kameranya, di SA sebagai wartawan.

Willy Corputty mengawali karier di SA sebagai Setting/layout, melalui tangan dinginnya karya-karyanya banyak diminati civitas akademika UKSW. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sain dan Matematika (FSM), saat ini bekerja di Manado sebagi pendidik. Di kostnya sering dipakai mengerjakan layout, bahkan, teman-teman pun memanfaatkan kamarnya buat tidur.

Kami berlima mengawali perjuangan menghidupkan kembali pers mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana. Hanya berbekal kamera dan laptop pinjaman, bahkan bila mau mengetik berita terpaksa pindah-pindah ruang. Semua ini tidak menyurutkan semangat kami.

Dengan segala keterbatasan, atas permintaan wakil rektor III, Umbu Rauta, selaku penanggungjawab meminta deadline Scientiarum harus terbit tepat Dies Natalis dan pelantikan rektor baru, pada 30 November 2005.

Melalui segala upaya dan serba ketergesa-gesaan tepat 30 November 2007, Scientiarum terbit. Dapat dikata belum memenuhi ideal sebuah media cetak pada umumnya, isi dan tampilan begitu standar. Namun, ada kepuasaan mendalam mengingat kami masih bau kencur.

Pasca-penerbitan kami mengawali agenda-agenda baru dan merencanakan penerbitan selanjutnya. Dengan formasi redaktur yang masih terbatas, aku selaku pemimpin redaksi meminta kepada teman-teman untuk selalu mencari formula-formula baru guna pengembangan scientiarum ke depan.

Kopi dan makan-makanan camilan cukup menghidupkan suasana sambil ngobrol isu-isu seputar kampus. Melalui cara-cara inilah kami biasa lakukan, karena strategi ini sangat ampuh untuk berdiskusi dan merekatkan hubungan emosional sesama anggota redaksi.

Ketika saya melihat ada ruang kosong, di kantor Lembaga Kemahasiswaan Universitas. Yang konon awalnya milik Senat Mahasiswa Fakultas Biologi, dari-pada ruangan itu tidak terpakai, saya berniat melobi ke Ketua Umum Senat Mahasiswa Universitas. Saat itu ketuanya Slamet Haryono, memberikan ijin sepenuhnya kepada redaksi untuk menempatinya.

Kemudian menyiapkan rekrutmen dari pembuatan selebaran sampai konsep penyeleksian benar-benar kami persiapkan dengan matang. Awalnya kami sempat pesimis “jangan-jangan tidak ada yang mau melamar”, melihat dinamika kampus yang sepi kegiatan kemahasiswaan. Namun, hal itu surut ketika melihat animo pendaftar yang rame ada 20-an orang.

Dari 20-an orang yang terdaftar, kami bersepakat proses seleksi memakai cara, setiap pendaftar membuat satu buah tulisan tentang fenomena yang terjadi di kampus. Dengan metode ini kami mencoba menilai dari originalitas ide dan sistematika tulisan. Kami hanya menetapkan 10 orang yang nantinya menjadi anggota redaksi SA baru.

***

Bersambung…

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Menghidupkan Scientiarum

  1. STR berkata:

    Mas Bams, tolong segera dilengkapi artikel ini. Biar sejarahnya Scientiarum bisa dipelajari orang banyak, termasuk aku.

    Trims.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s