Simfoni Pelangi

Oleh: Bambang Triyono

Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku yang telah sekian lama terpendam.

Usia Pelangi saat ini 21 tahun, lebih muda delapan tahun dariku. Meski muda, Pelangi memiliki kedewasaan yang cukup matang. Dia dapat berteman dengan siapa saja. Selain itu, dia juga termasuk tipe perempuan yang tegar.

Kami sudah berteman tiga bulanan. Tapi di awal-awal perjalanan, kita jarang bertemu. Waktu itu Pelangi indekos di Semarang selama sebulan. Dia bekerja pada sebuah bank sebagai assessor.

Baru akhir-akhir ini kami sering bertemu di kafe kampus. Itu pun ketika Pelangi sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi tahap akhir. Melihat dia sendiri waktu itu begitu pontang-panting mengerjakan skripsinya, maka aku merasa terpanggil untuk sekadar membantunya.

Pada suatu hari, Pelangi minta aku untuk mencarikan seorang teman yang bisa membantu mengerjakan skripsinya. Demi permintaannya itu lantas aku mengenalkan Pelangi kepada Opha. Namun bantuan Opha tidak berlangsung lama, waktu itu aku tidak mengetahui alasan sebenarnya, mengapa tiba-tiba saja Pelangi berpaling?!

Sebagai gantinya, bantuan datang dari Babe. Aku juga tidak terlalu paham, mengapa Pelangi memilih Babe?!

Setiap kali Pelangi mengerjakan skripsi dengan Babe, dia selalu minta agar aku mau menemaninya. Dan aku pun senantiasa menuruti permintaannya. Selain itu, aku juga beberapa kali makan bersama dan mengantarnya pulang apabila hari telah larut malam.

Hari demi hari terus kami lalui bersama, hingga kisah dan liku ini kian mengukir di lubuk sanubari. Aku merasa tak kuasa menjaga perasaan sekadar sebagai seorang teman. Rasanya ingin sekali memiliki Pelangi seutuhnya. Bayangan Pelangi seolah tak pernah lekang oleh waktu.

Aku telah jatuh cinta.

Di sore itu, hujan lebat dan awan begitu hitam. Aku, Pelangi, dan Babe duduk di kafe kampus sambil menikmati kopi dan camilan. Tak kusangka, Pelangi membuatku jengkel. Dia dan Babe sengaja memanas-manasi aku, mereka saling memberikan perhatian berlebih. Padahal, sebelum-sebelumnya tidak demikian.

Barangkali mereka telah mengetahui kalau aku telah jatuh cinta, dari gelagatku atau sikap-sikapku selama ini terhadap Pelangi. Aku begitu sensitif hingga wajahku kian memerah setiap kali Pelangi menawari Babe camilan. Tak ada yang dapat aku lakukan selain mencoba mendamaikan diriku.

Lagi-lagi, yang membuat aku kian jengkel adalah ketika mereka berdua pergi begitu saja dengan mobil sedan warna hitam, milik Babe. Tanpa pamit.

Karena aku telah jatuh hati kepada Pelangi, maka yang ada dalam benakku hanyalah kekhawatiran, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Pelangi.

Menjelang malam aku merasa bingung, tak tahu harus berbuat apa. Yang ada dalam otakku hanyalah Pelangi … Pelangi … dan … Pelangi.

Hujan mulai reda. Aku sudah merasa putus asa. Tiba-tiba aku teringat seorang teman, namanya Slamet. Sedikit banyak dia mengetahui kisahku dengan Pelangi. Keberuntungan datang, aku bertemu Slamet di pelataran kampus. Dia salah satu teman yang dapat dipercaya. Kita sudah berteman bertahun-tahun lamanya.

Aku minta dia untuk memberikan tanggapan dan masukan.

Aku mengutarakan apa yang barusan terjadi. Waktu itu dia memberikan tanggapan, “Kalau Pelangi melakukan hal demikian, itu hanya mau mengetes saja.” Aku cukup mengerti apa yang dia maksudkan.

Slamet juga memintaku untuk lebih tenang. Kemudian dia menyarankanku untuk mengirim pesan singkat kepada Pelangi.

“kmana..?”

Namun pesan singkat itu tak kunjung terkirim, masih pending. Setelah sekian lama tidak terkirim-kirim, maka aku pamit pulang ke kos.

Sesampainya di kos, aku lihat adik kandungku, Jack, sudah menungguku di kamar teman. Dia baru saja datang dari Boyolali. Saat itu aku hanya menyapanya sebentar lalu menuju kamarku di lantai dua.

Sesampainya di kamar, aku hanya memelototi langit-langit yang terbuat dari triplek yang sebagian telah lapuk. Tak ada gambaran jelas malam itu. Yang terselip di ingatan hanyalah menunggu kabar dari Pelangi.

Usai kumandang adzan Maghrib telepon genggamku bergetar. Aku membukanya, dan melihat laporan pesan singkat buat Pelangi telah terkirim. Tak lama kemudian, telepon genggamku bergetar lagi, dan kabar yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya datang juga. Pelangi membalasnya, “Aq dah smpai rumah. Piye?”

Aku tidak segera membalasnya, berpikir sejenak …. Berhubung aku ingin sekali mengetahui keadaannya, maka pikirku berbuah untuk mengajak Pelangi keluar jalan-jalan, dan aku mengirim pesan singkat.

“Jalan-jalan n sekalian dinner, yuk?”

“Ehm blh d, jam 8 ya…Aq tak isti bentar bis aq cpk bgt. Tak tgu y thx,”

Setelah itu hatiku sedikit lega. Mengingat waktu masih cukup lama, aku manfaatkan saja untuk ngobrol dengan Jack. Saat itu dia mengisahkan pertemuannya dengan kekasihnya tadi siang, saat makan bareng.

Namun saat Jack sedang asyik bercerita, sebenarnya aku hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan uang buat makan malam bersama Pelangi. Saat itu aku tidak memiliki uang sepeserpun.

Dalam pengap dan gelap, amarahku memuncak dalam benakku ….

Pergolakan batin itu berujung pada kenekatan untuk berterus terang kepada Jack.

“Jack, punya uang gak?”

“Ada … emang kenapa Mas?”

”Aku pinjam uangmu dulu … tak pakai buat makan ma cewek.”

Dia langsung merogoh dompetnya dari saku celana jins warna hitam. Rencananya, aku hanya ingin pinjam lima puluh ribu saja, tapi dia malah kasih seratus ribu. Sambil mengulurkan uang dia bergumam, “Susahnya ya seperti itu kalau tidak punya uang.”

Barangkali dia teringat masa lalunya yang serba kekurangan. Sekarang Jack telah mendapatkan penghasilan sendiri. Dia bekerja di Jakarta, sebagai musisi.

Waktu seolah-olah berputar begitu cepat. Pukul 19.30, aku kembali berpetualang untuk mencari pinjaman motor. Ada dua teman yang aku hubungi melalui pesan singkat, Fajar dan Aan.

Aku jadi cemas ketika pesan singkat itu tidak segera mendapatkan balasan dari keduanya. Berhubung tidak ada kepastian, aku pun beranjak pergi menuju kampus, untuk menemui Slamet, dengan harapan motornya bisa aku pinjam.

Baru sampai di depan pintu gerbang kampus, telepon genggamku di saku celana jins bergetar. Fajar rupanya membalas pesan singkatku. Dia berkata, “Jam delapan aku baru ke kos.”

Balasan itu aku cuekkan. Aku tetap mencari Slamet.

Sesampainya di pelataran kampus, aku bertemu Dobleh. Aku pun bertanya ke dia tentang keberadaan Slamet. Dia memberitahukan kalau Slamet sudah pulang dari tadi sore.

Saking buru-burunya, aku lalu mengeluarkan telepon genggam untuk menelepon Slamet. Tapi ketika terhubung tidak terdengar suaranya, cuma terdengar kresek-kresek.

Tak lama kemudian Slamet mengirim pesan singkat. “Ak d kdai rio. Td km tlp ak ga dngr, ak trima tp suaramu ga msuk.”

“Ya dah aq k situ….” balasku.

Karena terus dikejar waktu, aku pun minta tolong Dobleh untuk segera mengantarku ke kedai Rio. Kami pun meluncur dengan mobil sedan warna silver.

Setibanya di kedai Rio, aku melihat Slamet sedang ngobrol asyik sambil menikmati secangkir susu putih dan roti bakar bersama dua temannya.

Aku lekas menghampirinya.

“Met, motormu mana?”

“Itu ….” Tangan kanannya menunjuk ke arah motornya yang saat itu sedang diparkir di bawah pohon.

“Aku pinjam dulu ya …?”

“Bawa aja, bawa STNK sekalian gak …?”

“Ya ….”

Dia pun segera mengambil STNK dari dompetnya, untuk kemudian diberikan padaku.

Aku melihat jam di telepon genggam menunjukkan pukul 19.45. Aku pun langsung pamit. Motor Kawasaki warna hitam itu aku geber menuju rumah Pelangi.

Kurang lebih sepuluh menit kemudian aku sudah sampai di depan rumah Pelangi. Aku lihat Pelangi sudah menunggu di beranda depan rumahnya. Dia duduk di kursi busa warna coklat sambil pencet-pencet telepon genggamnya. Pelangi saat itu mengenakan jaket berkerudung warna merah dan celana pendek kotak-kotak dominasi warna coklat bergaris-garis hitam.

Melihatku datang, Pelangi pun bergegas menemuiku di luar pagar yang terbuat dari besi. Tiba-tiba dia langsung mengajakku jalan, tanpa menyuruh mampir barang sejenak.

Aku pun hanya bisa menuruti permintaannya. Setelah Pelangi duduk di jok motor, kami berbalik arah, menyusuri Jalan Pattimura.

Di tengah perjalanan, kami asyik ngobrol sambil menikmati keindahan perbukitan dan kerlap-kerlip cahaya nun jauh di perbukitan. Memasuki jantung kota, Pelangi bertanya, ”Mau makan di mana Mas …?”

“Ke Frufru yuk ….”

Pelangi langsung menyetujuinya. Kami pun menuju kafe Frufru yang letaknya di pinggiran kota Salatiga. Sesampainya di Frufru, kami berjalan menuju meja resepsionis, yang saat itu dijaga seorang perempuan. Dengan senyum mungilnya, resepsionis tersebut menyambut kedatangan kami, dan tanpa bercakap banyak perempuan itu menawari ruang, “Mau di bawah apa di atas?”

“Di atas aja …,” jawab Pelangi.

Kami berdua menuju ke ruangan atas dengan menaiki anak tangga yang terbuat dari besi. Sampai di ruang lantai dua itu, kami berhenti sejenak untuk kemudian memilih tempat duduk. Pelangi memilih meja yang letaknya di lobi kafe.

Baru sebentar duduk, seorang pelayan menghampiri sambil menyodorkan daftar menu.

Aku lihat Pelangi memesan ayam goreng kremes dan lime squash. Sedangkan aku pesan Paket D, yang di dalamnya ada ayam goreng, nasi yang dibungkus dengan daun pisang dan sedikit lalapan, dan minumannya teh stroberi. Sambil menunggu pesanan datang, kami ngobrol-ngobrol lagi tentang apa saja yang terlintas.

Malam itu, Pelangi lebih banyak mengisahkan kehidupannya. Mulai dari masalah keluarganya, sampai menyinggung penyakit yang dideritanya selama ini.

Selama kenal Pelangi, baru malam itu dia mengatakan kalau dia menderita penyakit tumor di kepalanya. Usai mengetahui keluhan Pelangi, hampir seluruh badanku melemas, terlebih ketika Pelangi berkata …

“Ya kalau mati ya mati …”

“Ya kalau mati ya mati …”

Kata-kata itu terlontar berulang kali. Dia begitu pasrah dengan kondisinya. Apabila tiga bulan ke depan tidak segera sembuh, tidak tahu apa yang akan terjadi pada Pelangi. Dan itu membuatku hanya bisa menghela nafas dalam-dalam, sampai air mataku sedikit tercecer.

Desau angin malam itu tak mampu membasuh derita Pelangi.

Meski kondisi Pelangi demikian, dalam lubuk hati terdalam aku tidak akan surut untuk senantiasa mencintainya. Justru aku ingin sekali lalui hari-hari bersama Pelangi, entah sampai kapanpun.

Hatiku terlanjur ingin sekali melonjak menggapai pelangi di matanya.

Percakapan itu terputus dengan kedatangan pelayan yang mengantar makanan. Setelah menaruh semua makanan di atas meja, pelayan itu pergi sambil berkata, “Silahkan menikmati. Kalau ada apa-apa, silahkan menemui kami.”

Semua hidangan telah tersaji. Aku dan Pelangi pun segera menyantapnya. Dengan menikmati makanan itu, kami kembali ngobrol dengan sesekali diselingi canda tawa.

Percakapan demi percakapan terus mengalir, hingga tak terasa makanan pun habis.

Sejenak kemudian kami berdua sedikit meluangkan waktu untuk menatap jauh ke belantara angan. Aku, sambil menikmati sebatang rokok, menatap hitamnya langit dan bunga-bunga di pot yang mulai lesu. Sedangkan Pelangi aku lihat lebih banyak diam dan sesekali menundukkan kepalanya.

Agar suasana lebih rileks, aku coba menawari Pelangi kentang goreng. Pelangi tidak menolaknya. Lalu aku segera beranjak dari tempat duduk, pergi menuju meja pelayan di sudut ruangan untuk memesan kentang goreng.

Tak lama kemudian, aku kembali lagi duduk di samping Pelangi. Belum ada sepuluh menitan duduk, suasana terasa mencekam ketika angin kencang menghampiri. Beberapa tisu pun terhempas jatuh ke lantai.

Seketika itu pula Pelangi mengenakan jaketnya kembali untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam. Pelangi mengajakku pindah ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan itu kami duduk di kursi busa warna hijau, yang letaknya di sudut paling depan. Setelah kami duduk, pelayan datang lagi dengan membawakan kentang goreng.

Aku minta Pelangi untuk memakannya terlebih dahulu, mumpung masih hangat. Baru setelah itu aku. Satu persatu kentang goreng pun hampir habis kita makan.

Malam pun kian larut, berhubung malam ini tujuanku tak lain adalah untuk mengutarakan isi hatiku ke Pelangi, aku pun mencoba memberanikan diri untuk berkata terus terang.

“Sebelumnya aku minta maaf, aku ingin sekali mengutarakan sesuatu ke kamu … boleh gak?”

“Emang ada apa to Mas?”

“Eng … gak …. Kamu mau gak kalau kita jadian?”

Seketika itu pula Pelangi hanya senyum-senyum saja, sambil matanya melirik sisi kanan atas.

“Ehm, gimana ya Mas …. Sebenarnya aku lebih menikmati hidup sendiri.”

“Bisa kemana-mana …. Terus terang Mas, setelah aku sering nongkrong di kafe, aku banyak mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah aku peroleh.”

“Aku gak bisa Mas …. Gak apa-apa kan Mas …?”

Aku hanya bisa menghela nafas. Dalam dadaku pengap dan hampir semua persendianku seperti mau copot.

“Ya … kalau itu emang sudah menjadi kemauanmu, tidak apa-apa.”

“Bener Mas gak apa-apa?”

“Enggak ….”

Meski sebenarnya aku kecewa, tapi aku tetap menerima realitas ini dengan lapang dada. Toh aku telah mencobanya ….

”Emang Mas suka aku karena apa? Kalau boleh tahu ….”

”Setiap kali aku melihat matamu, ada pelangi.”

Dalam benakku, aku lebih menyukai perempuan seperti Pelangi yang memiliki banyak warna. Pergolakan dalam dirinya itulah sebuah simfoni yang senantiasa memanjakan aku untuk selalu menjaga dan melindunginya.

Pertemuan malam itu pun berakhir ketika pelayan memberitahukan kalau kafe sebentar lagi tutup. Kami pun beranjak pergi dari lantai dua menuju lantai satu untuk membayar makanan kami.

Setelah itu aku mengantar Pelangi pulang. Di sepanjang jalan kami berbincang-bincang lagi. Dan anehnya, perbincangan tidak membahas apa yang baru saja terjadi. Kami lebih banyak bicara soal kehidupan keluarga.

Jarum jam hampir menunjuk pukul sepuluh ketika kami sampai di depan rumah Pelangi. Dia langsung turun dari motor. Tanpa memberi salam, dia berlalu begitu saja. Aku pun hanya mampu berkata lirih, “Mengapa Pelangi bersikap demikian?”

Melihat kejanggalan itu, aku pun langsung memutar motor untuk pulang. Dalam perjalanan, aku hanya bisa menelusup ke ruang hampa tak bercahaya. Dan aku hanya berusaha melerai diriku sendiri.

Semoga saja akan datang hikmah di balik ini semua.

Setidaknya aku telah berbuat yang terbaik, dan tentunya nama Pelangi akan tersimpan di lubuk hatiku terdalam. Meski tanpa harus memiliki, aku masih berharap Pelangi menjadi teman selagi Sang Surya masih bersinar.

Keterpukauanku terhadap simfoni dalam dirinya itulah kelak yang akan menjadikan kehidupan Pelangi seperti harmoni, dan indah pada akhirnya ….

BAMBANG TRIYONO
Salatiga, 17 Oktober 2008

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s