Inspirator Tiga Zaman

Oleh : Bambang Triyono

Arief BudimanBerani menyuarakan kebenaran, getol  bicara Marxisme, negara, masyarakat, demokrasi, dan acapkali diwawancarai media, Arief bangga perjuangannya hingga kini masih bergema.

Arief Budiman lahir di Jakarta, 3 Januari 1941. Sebelumnya, dia bernama Soe Hok Djin. Dia merupakan kakak kandung Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa 1960-an yang ikut mengatur demonstrasi anti-Soekarno. Hok Gie meninggal karena keracunan gas di Gunung Semeru tahun 1969.

Ayahnya bernama Salam Sutrawan, seorang pengarang novel. Di kalangan orang-orang Tionghoa peranakan, dia dikenal sebagai seorang tokoh sastra. “Dia dulu sebagai pengarang cerita-cerita roman yang menarik kalau dibaca,” ujar Arief.

“Ketika bersama ayah yang lagi ngetik-ngetik cerita, saya seringkali nongkrong sambil baca-baca cerita selembar-selembar,” kenang Arief ketika kami berbincang di bawah pohon, duduk di atas bangku kayu, di Kampoeng Percik, pertengahan Agustus 2008.

Ibunya bernama Maria Sugiri, seorang ibu rumah tangga biasa. “Saya itu ya Cina peranakan bener gitu ya, gak bisa ngomong Cina. Ibu saya gak bisa, bapak saya gak bisa. Musti tahu dikit-dikitlah,” katanya.

Semasa sekolah di SMP Kanisius, Jakarta, Arief menulis untuk majalah Pemancar Kanisius College. Saat itu dia baru sebatas menulis komentar. Lalu Arief mulai menulis cerpen. Cerpennya yang berjudul “Joki Anjingku” dimuat di majalah Mimbar, asuhan Hans Bague Jassin, seorang sastrawan Indonesia yang punya julukan “Paus Sastra Indonesia”.

“Saya menjadi penulis karena lihat model ayah, menulis sejak SMP. Bahkan setelah lulus dari SMA, saya rutin menulis di koran-koran, sehingga saya dikenal oleh banyak kalangan. Tapi karena saya lebih di bidang keilmuan, jadi lebih seneng nulis yang kritis,” ungkapnya.

Dari kegemarannya menulis itu, Arief Budiman mulai kenal sastrawan sepantarannya, macam Willibrordus Surendra Rendra dan Goenawan Mohamad. “Semua itu angkatan sama-sama. Rendra di Jogja. Kalau saat saya ke Jogja, saya nginep di rumahnya. Begitu pula dia sebaliknya. Kalau dia ke Jakarta, nginep di tempat saya. Jadi akrablah kita,” ujarnya.

“Kalau Goenawan Mohamad itu dulu sama-sama di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Cuman dia keluar. Dia lebih senang jadi seorang sastrawan. Goenawan Mohamad adalah pendiri majalah Tempo,” kata Arief.

Arief pernah terlibat konflik dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat, sebuah organisasi kebudayaan milik Partai Komunis Indonesia di era Presiden Soekarno.

Kata Arief, Soekarno saat itu sangat dipengaruhi oleh Lekra. “Prinsip Lekra, seni itu harus dibawa ke politik, harus mengabdi kepada kepentingan rakyat. Kalau seni yang cuman bercerita orang bercinta, dianggap seni iseng, gak ada gunanya,” kata Arief.

Pernyataan itu ternyata membuat gerah orang-orang liberal macam Rendra, Goenawan Mohamad, Wiratmo Sukito, dan Arief Budiman. Mereka lalu membalasnya dengan mengatakan, “Seni itu yang penting nilai sastranya. Boleh membela buruh atau gak membela buruh, kalau nilai sastranya bagus ya bagus.”

Namun pernyataan itu diserang lagi oleh Lekra. Mereka tak setuju dengan pendapat kelompok Arief. Kalau tidak pro rakyat, dianggap bukan kesenian. Maka tak terhindarkanlah polemik di antara dua kubu yang saling berseberangan ideologi ini.

Tahun 1962, Arief dan kawan-kawan mencetuskan istilah yang lebih dikenal dengan sebutan Manifesto Kebudayaan atau Manikebu, yang mengatakan bahwa “kesenian itu bebas”. “Mau pro rakyat atau gak pro rakyat, yang perlu adalah jujur dan indah,” kata Arief.

Soekarno lantas melarang Manikebu karena dianggap antirevolusi. Para penandatangannya, termasuk Arief Budiman, dilarang menulis.

Sebelum tahun 1965, Arief Budiman sangat anti-Soekarno. Katanya, “Presiden RI pertama itu diktaktor, kalau membuat syarat seenaknya.”

Baru tahun 1966, Soeharto muncul. Arief dan kawan-kawannya langsung mendukung, itu alternatif buat mereka. Mereka berharap, Soeharto, setelah mengambil alih pucuk pimpinan sebagai presiden, tak memakai lagi cara-cara militeristik. Pada masa itu, demokrasi berjalan dengan baik melawan konsep Demokrasi Terpimipin milik Soekarno.

Arief dan kawan-kawan tak percaya Demokrasi Terpimpim. Menurut mereka, demokrasi haruslah dipimpin rakyat. Jadi mereka mendukung Soeharto dengan asumsi Soeharto hanya sebagai peralihan. Ironisnya, presiden kedua itu ingin berkuasa selamanya. Lebih ironis lagi, orang-orang yang berani melawan mulai dilarang penguasa Orde Baru itu.

Sekitar tahun 1970, Arief Budiman mulai terlibat beberapa aksi demonstrasi, seperti yang dilakukannya bersama para mahasiswa. Mereka mengritik Soeharto yang mulai berani korupsi. Mereka juga memelopori Golongan Putih, mengajak rakyat memboikot pemilihan umum.

Tahun 1972, Arief ikut demo menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Alasannya, pembebasan lahan tak dilakukan dengan baik, rakyat diusir demi kepentingan penguasa.

“Kita demo anti-Taman Mini, Soeharto marah rupanya. Yang diserang istrinya (Tien Soeharto) dalam pidato Pertamina itu. Dia bilang waktu tahun 1965 itu, semua gak ada jendral-jendral yang dekat saya, cuman istri saya yang mendampingi saya. Sekarang kamu mengkritik dia. Dia adalah penegak orang pertama mendukung Orde Baru,” beber Arief.

Setelah berpidato, Arief dan kawan-kawannya ditangkap dan dipenjarakan selama dua bulan. “Hanya memberi pelajaran saja buat kita. Dia segan juga, karena kita membela dia (Soeharto) sebelumnya,” klaim Arief.

Arief ditahan di Markas Polisi Air dan Udara Tanjung Priok. Selama ditahan, menurut Arief, dirinya diperlakukan dengan baik, karena polisi tahu kalau yang ditahan adalah Arief Budiman. Mereka simpati atas perjuangan Arief. “Saya seneng juga karena saya merasa perjuangan saya bergema juga di kalangan bukan hanya orang yang anti-Pemerintah, tapi orang Pemerintah pun berdebat di situ,” ujar Arief.

Tahun 1973 hingga 1979, Arief Budiman studi lanjut ke Harvard University, Cambridge. Dia mendapat beasiswa dari Seymour Martin Lipset, profesor sosiologi Harvard. Di kampus inilah, Arief memperoleh gelar doktor sosiologi.

Semasa di Amerika, Arief pernah mengajar bahasa Indonesia. Mula-mula di Cambridge, lalu pindah ke California. Di kota kedua inilah dia hidup serba pas-pasan. Tapi dia juga merasa senang. Upaya ini dilakukan Arief untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari, ketika beasiswanya distop.

Tahun 1980, Arief kembali ke Indonesia. Tapi dia tak tahu harus kerja dimana, dia merasa tak punya afiliasi. Beruntung dia bertemu teman lamanya, Aristides Katoppo, pemimpin redaksi harian Sinar Harapan.

“Ke Salatiga aja, ada Pak Tarno,” kata Arief, menirukan saran Katoppo. “Pak Tarno” yang dimaksud adalah Sutarno, rektor kedua Satya Wacana, yang menjabat dari tahun 1973 hingga 1983.

“Kebetulan saya sering baca hasil riset dari LPIS, di situ ada hasil risetnya Wondo. Saya memang kepingin tahu desa-desa di Indonsia, Salatiga memang pedesaan. Saya pikir, cobalah ngomong ke Pak Tarno,” kata Arief. “Wondo” yang dimaksud adalah Kutut Suwondo, dosen Pascasarjana hingga sekarang. Sedangkan LPIS adalah singkatan Lembaga Penelitian Ilmu Sosial. Dulu gedungnya menempati kantor Fakultas Theologi dan Fisipol sekarang.

Pertama kali datang ke Salatiga, Arief sangat terkesan melihat Satya Wacana yang masih “murni”. Waktu itu dia juga menganggap riset-riset bukan untuk proyek, tapi benar-benar sebuah riset apabila dilihat dari publikasinya.

“Saya kemari (Salatiga) tahun 1980-an. Sejak itu menyenangkan buat saya. Jadi bisa buat ilmu, juga bisa menulis lagi di koran-koran. Yang terkesan lagi, universitas ini (Satya Wacana) masih ‘murni’, kayak anak kecil yang masih bersih dan masih perawan dari segi keilmuan,” kenang Arief.

Bersama beberapa mahasiswa, Arief ikut terlibat dalam Yayasan Geni — singkatan dari Gemi Nastiti). Salah dua pelopornya adalah Andreas Harsono dan Yosep “Stanley” Adi Prasetyo. Keduanya mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Elektro, angkatan 80-an. Nama Arief dipakai agar gampang menembus media.

“Dulu Geni jadi alternatiflah. Bikin kursus-kursus. Anak-anak Elektro melatih pemuda-pemuda yang putus sekolah, supaya mereka bisa membenahi televisi dan radio, supaya mereka ada kerjaan. Cukup menarik waktu itu. Idealisme masih kental sekali,” kenang Arief lagi.

Dulu juga ada istilah “SAB” (Sahabat Arief Budiman). Ini berawal ketika dokar dan becak tak boleh memasuki area jalan protokol di Jalan Jenderal Sudirman, karena dianggap sebagai biang kemacetan. Arief dan mahasiswa-mahasiswanya menentang karena kasihan, pendapatan para sais dokar dan tukang becak menurun.

“Tahun 1994 saya dipecat (dengan tidak hormat) dari Satya Wacana,” katanya.

Saat itu sedang berlangsung pemilihan rektor di Satya Wacana. Para calon dipilih oleh wakil-wakil unit di Senat Universitas. Dua nama yang dapat suara terbanyak lantas diajukan kepada Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Satya Wacana untuk dipilih lagi.

Statuta Universitas Kristen Satya Wacana memang mengatakan bahwa Yayasan punya wewenang penuh untuk menentukan siapapun pengisi jabatan rektor. Tapi dalam tradisi di Satya Wacana, Yayasan selalu mengangkat calon yang mendapat suara terbanyak di Senat Universitas.

Dari pemungutan suara di Senat, yang mendapat suara terbanyak adalah Liek Wilardjo (dosen Fakultas Teknik Jurusan Elektro). Sedangkan John Ihalauw (dosen Fakultas Ekonomi) mendapat suara terbanyak kedua. Kalau mengikuti tradisi, seharusnya Wilardjo yang terpilih.

Tapi Yayasan malah memilih Ihalauw.

Melihat fenomena itu, Arief berkomentar, “Kalau Liek Wilardjo itu, orangnya terlalu jujur, gak bisa korupsi. Jadi, kalau dia jadi rektor, bakalan orang Yayasan nggak dapat uang saku tiap kali rapat,” ujarnya. “Sedangkan John Ihalauw, memang dia ekonom. Dia lincah sekali, dia bisa kasih uang cukup.”

“Kalau Liek bilang, pengurus yayasan itu jabatan kehormatan, jadi ngapain pakai uang. Liek terlalu takwa, terlalu kaku, dan juga dia jarang ke gereja. Sedangkan John lebih aktif,” ujarnya.

Arief pun protes, “Ini nggak sesuai dengan prosedur. Meskipun secara haknya benar, tapi secara tradisi demokrasi nggak cocok.”

Waktu itu, Satya Wacana merupakan salah satu universitas yang dianggap penting secara nasional. Maka wartawan Kompas, Tempo, Sinar Harapan, dan sebagainya datang mewawancarai Arief. Karena Arief “orang media”, maka dia kerap diwawancara sendirian.

“Jadi, saya dianggap pemimpin pemogokan,” kata Arief.

“Waktu makin panas legitimasi dari John Ihalauw, jadi tahu secara nasional. Terus JOI (Ihalauw) mengambil tindakan yang drastis. Saya dipecat dengan tidak hormat, karena dianggap, masalah intern dibawa keluar. Padahal, saya nggak berusaha narik pers. Pers sendiri yang datang. Ya nggak keberatan kalau pers datang,” tambah Arief.

Begitu Arief dipecat, pemberitaan di koran-koran makin besar, dan ada orang-orang yang memberi tuduhan. “Arief itu apa? Hati-hati! Dia mau meng-Islam-kan Satya Wacana. Padahal, Islam saya Islam pas-pasan, karena kawin dengan Leila aja. Tapi itu terlalu bener orang curiga,” kata Arief.

Polemik ini direspon teman-teman Arief yang setuju tradisi demokrasi. Yang dia wacanakan pada waktu itu adalah mogok mengajar, dan mogok kuliah. “John Ihalauw orangnya tegas. Kalau ada yang mogok kuliah atau kalau nggak ngajar hari ini, minggu ini juga diultimatum, dipecat,” kata Arief.

Meski mendapat ultimatum, teman-teman Arief tetap tak mengajar. Kelompok ini terdiri dari orang-orang macam Pradjarta Dirdjosanjoto, I Made Samiana, dan kawan-kawan, yang lantas mendirikan Yayasan Percik di daerah Turusan.

“Jadi sekarang nggak bisa dibilang masalah Islam lagi, karena banyak yang mogok dan dinonaktifkan adalah orang-orang Kristen. Prinsipnya ya demokrasi,” tukas Arief.

Karena Satya Wacana tak mau mempekerjakannya kembali, Arief pun mencari pekerjaan ke beberapa kota. Yang pertama mau menerima dia adalah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Waktu itu rektornya adalah Romo Sastro Pratedjo. Arief pun sempat menjalani tes wawancara.

Mulanya, orang-orang Sanata Dharma mengaku senang ketika Arief akan bergabung dengan mereka. Tapi, tanpa terduga, mereka lalu menolak Arief. Menurut Arief, waktu itu mereka mengatakan bahwa Sanata Dharma sedang dalam proses disamakan dengan universitas negeri. Jadi mereka tak mungkin menerima Arief Budiman, yang selama ini terkenal kritis terhadap Pemerintah.

“Mereka membatalkan karena alasan pragmatis. Saya bilang nggak masalah. Saya tahu keadaan politik kacau, jadi hal ini bukan salah Sadhar. Jadi nggak ada sakit hati,” kata Arief. “Tahu saya, cari-cari dalam negeri nggak ada yang mau terima. UGM nggak mau, UI nggak mau. Jaman Soeharto kan?”

Tak ada pilihan lagi di Indonesia. Arief harus berpetualang ke luar negeri.

Dia melamar ke Malaysia, Jepang, dan Amerika Serikat. Namun, di ketiga negara tersebut, nasib baik tak kunjung tiba. “Di Malaysia dan Jepang lebih diprioritaskan penduduk asli,” katanya.

Arief juga melamar ke Australia. Di sana ada dua universitas yang mau menampungnya, yakni Monash University dan The University of Melbourne. Namun Arief lebih memilih Melbourne. Di sinilah dia diwawancara, untuk kemudian diminta menunggu keputusan. Kronologi perjalanan ini dia terbitkan di harian Kompas, dan belakangan dimuat di buku Kebebasan, Negara, Pembangunan yang diterbitkan Pustaka Alvabet.

Sambil menunggu keputusan dari Melbourne, Arief pulang ke Indonesia. Sampai di Indonesia, dia justru ditawari untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta, saat rektornya masih Malik Fajar.

“Tapi saya sudah melamar ke Melbourne. Nggak enak saya. Waduh, sebelum ke Melbourne, saya mau ke sini (UMS),” kata Arief. Arief memang lebih ingin bekerja di dalam negeri.

Pertengahan tahun 1997, Arief kembali lagi ke Australia. Di Melbourne, dia langsung diangkat jadi guru besar. Dialah orang Indonesia pertama yang diangkat jadi guru besar tetap di Australia. “Waktu itu diwawancarai dua kali, dilihat background-nya. Kalau ijasah, mereka sudah senang dari Harvard University. Harvard, untung sekali kalau tamat dari sana, langsung mau ke mana, meskipun dalamnya sama aja,” kata Arief.

Tapi, Melbourne juga sempat keberatan karena Arief seorang kritikus Pemerintah. Mereka takut nanti dimusuhi Pemerintah Indonesia. Hal itu sempat jadi isu besar, ada pro-kontra, tapi Rektor Melbourne memutuskan untuk menerima Arief.

“Kita nggak boleh memasukkan pertimbangan politik, tapi pertimbangannya akademis. Kalau pertimbangannya politik, nanti orang yang pandai sekali akademisnya, hanya karena pemerintah mereka nggak setuju. Kayak dari Cina, ahli Cina yang mau datang kemari terus Pemerintah Cina nggak setuju, kita nolak itu nggak bener, kita bukan universitas lagi,” ujar Arief, menirukan Rektor Melbourne.

Lalu pernyataan itu dimuat di koran-koran Australia. “Jadi waktu saya datang ke sana udah terkenal dulu, karena sudah jadi pro-kontra di koran-koran. Saya masuk sana sampai pensiun Januari 2008 lalu,” katanya.

“Karya-karya saya yang banyak digemari adalah buku-buku saya tentang teori ilmu sosial dan negara. Saya memperkenalkan Marxisme, itu dulu. Kalau sekarang, sudah banyak penulis-penulis yang lebih hebat. Apalagi dulu, waktu jaman Soeharto, ketika Marxisme dilarang, saya nggak nulis tentang Marxisme, tapi ide-ide Marxis, teori-teori Marxis dengan teori yang lain, jadi seimbanglah,” kata Arief.

Karya-karya itu Arief anggap sebagai kontribusinya terhadap bangsanya. Karena banyak mahasiswa-mahasiswa ilmu politik pada senang, dia sampai diundang ceramah dari kota ke kota. Di Bandung, dia bertemu Ferry Ahmadi, yang gemar membaca teori-teori Marxis. Ferry adalah tokoh mahasiswa yang berdemo tahun 1978, menentang kebijakan Soeharto. Dia sempat ditangkap lalu dipenjara. Kini Ferry berafiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Arief Budiman bilang, demokrasi itu penting sekali. “Sekarang sudah menarik karena demokrasi sudah muncul. Tapi yang belum muncul yaitu kita harus hadapi bahwa masyarakat Indonesia itu masih bodoh. Politik bukan berdasarkan kesadaran berpolitik atau program, tapi berdasarkan ikatan tradisional kebudayaan. Orang Islam milih partai Islam. Orang Soekarnois, orang Jawa pokoknya ya pilih PDI,” kata Arief, memberi contoh.

Menurut Arief, meski kini ada demokrasi, tapi suara itu tak mencerminkan kepentingan umum, melainkan kepentingan terbesar dari masyarakat primordial. “Jadi, sekarang yang berperan Islam, dua kelompok: PDIP sama Islam. Ada kelompok yang modern, Golkar. Tapi saya kira itu lebih banyak bukan ke masyarakat, tapi lebih berdasarkan penguasaan lembaga-lembaga negara,” katanya.

Melihat kondisi Indonesia sekarang, Arief punya anggapan bahwa kita “beruntung” mendapat presiden seperti Susilo Bambang Yudhoyono. “Gus Dur kan kacau kan dulu? Sampai militer mengadu domba di Maluku, karena Gus Dur terlalu drastis, semua militer disingkirkan. Kita harus akui, meski nggak seneng militer, tapi militer masih merupakan kekuasaan, meski sudah jauh berkurang.”

“Dengan adanya SBY, yang orang militer, maka militer jadi lebih tenang. Jadi merasa nggak terganggu. Untungnya, SBY militer tapi cara berpikirnya sipil. Kelemahannya, dia nggak berani ambil keputusan, lamban sekali. Yah … cara sipil berpikirlah,” kata Arief.

Arief menganggap, apa yang sedang dijalani Indonesia kini adalah sebuah transisi yang bagus. “Militer dapat dijinakkan, dan SBY itu bukan berafiliasi dengan kandang-kandang budaya yang lama. Dia Islam tapi nggak fanatik Islam. Dia sekuler, Jawa, tapi juga nggak fanatik Jawa. Dengan adanya Jusuf Kalla yang dari luar Jawa, orang luar pulau Jawa merasa terwakili. Jusuf Kalla juga hati-hati, nggak terlalu menonjolkan ke-Bugis-annya.”

“Pada intinya, ini transisi bagus. Cuma, kalau kita nggak sabar, ya … memang lamban sekali. Kita lihat 2009 nanti. Mungkin masyarakat sudah tahu tentang demokrasi, mungkin perlu dituntut supaya SBY berbuat lebih banyak lagi. Kalau sekarang sampai 2009, kita anggap fase ‘magister’, nggak terlalu tajam tapi juga nggak terlalu lamban.”

“Cita-cita apa yang belum tercapai?” tanya saya.

“Saya cukup puas dengan hidup saya sekarang. Kalau yang belum tercapai, banyak aja ya. Saya kepingin jadi ilmuwan yang punya pengaruh di dunia. Punya teori baru atau ‘teori Arief Budiman’. Tapi saya kira itu tidak akan tercapai. Alasannya, ya udah sampai sekarang umur saya hampir 70 tahun. Kalau masih 40 atau 50-an tahun, saya masih berambisi,” jawabnya.

Kini, hidup Arief Budiman telah menjelang batas lorong dunia. Akankah kisah dan liku hidupnya sepanjang Era Revolusi, Orde baru, hingga Reformasi mampu menginspirasi generasi muda? Atau justru sebaliknya, menjadi tokoh yang terlupakan?

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di Sosok dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Inspirator Tiga Zaman

  1. egistahadi berkata:

    artikel-nya bagus om..

    Thanks

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s