Geliat Bushido

Baru saja diresmikan Pusat Kajian Etika. Dalam rangka ini Pendeta Sutarno kembali berceramah. Makalah yang ia sampaikan berjudul “Universitas Sebagai Laboratorium Etika”, ulasannya menarik dan mendalam.

Sutarno adalah Mantan Rektor ke II Universitas Kristen Satya Wacana. Menggantikan O.Notohamidjojo (almarhum) pada 11 Oktober 1973. Sutarno juga pernah menjadi pelaksana harian Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan, Jakarta.

Selain peresmian Pusat Kajian Etika. Acara di paralel dengan peluncuran buku “Bukan oleh Kekuatan dan Kehendak Sendiri” karya Pendeta Sutarno. Dan Pemotongan tumpeng dalam rangka perayaan hari ulang tahun Pendeta Sutarno ke 75.

Acara ini dihelat di ruang tertutup, di Balairung Universitas Universitas Kristen Satya Wacana, mulai pukul 10.00, Kamis, 24 Februari 2009. Tamu undangan duduk setengah melingkar, di meja tersedia roti empuk, sosis, dan aqua gelas yang disusun seperti piramida.

Pendeta Sutarno menjadi pusat perhatian. Di mimbar bebas Sutarno berceramah panjang lebar, Ada dua hal melatarbelakangi tema yang dia angkat; (1) Pemikiran dan Pertimbangan Etika Dalam Kehidupan. (2) Komitmen Satya Wacana Kepada Etika.

Sutarno yang mengacu dua hal di atas, berkata “Di dalam menjalani kehidupan ini, kita selalu diperhadapkan berbagai hal, keadaan dan peristiwa yang kita jumpai, baik yang besar maupun kecil, penting atau remeh. Dalam hubungan itu kita sering dituntut untuk menentukan pilihan-pilihan ataupun membuat keputusan-keputusan mengenai apa yang harus kita lakukan dalam rangka menanggapi dan menyikapi hal, keadaan atau pun peristiwa tersebut,” Ujar Sutarno mengawali ceramah.

“Pilihan atau keputusan itu ada yang menyangkut masalah selera (taste), misalkan keindahan dan rasa. Terhadap selera dan rasa, masalah benar-salah, baik-buruk itu sulit diperdebatkan, karena sifatnya sangat subyektif dan merupakan bawaan seseorang. Adapula hal-hal yang bersangkutan dengan fakta atau kenyataan. Mengenai ini benar-salah dapat ditentukan secara lebih obyektif dan pasti, melalui verifikasi dan pembuktian,” katanya.

Lalu ia menganggap dalam dimensi etika, “di mana pertimbangan yang digunakan untuk menentukan benar salah atau baik-buruk itu tidak ditentukan oleh selera maupun fakta. Melainkan oleh nilai-nilai, norma-norma, dan prinsip-prinsip yang dipegangi, berdasarkan keyakinan tertentu,” urai dalam makalahnya.

Sutarno memberi contoh mengenai masalah-masalah yang berdimensi etika,“bagaimana menggunakan jabatan secara baik dan bertanggungjawab; menerapkan hukuman mati itu melanggar perikemanusian atau tidak; mengubah hutan menjadi kawasan permukiman atau industri tanpa mengindahkan dampak negatifnya terhadap lingkungan hidup itu apa dapat dibiarkan saja; membenci atau mendeskriminasikan secara apriori terhadap seseorang atau sekelompok orang dari suku atau agama lain itu harus ditolak; melakukan rekayasa genetika pada manusia itu melanggar kodrat Tuhan, boleh atau tidak; dan sebagainya,” urai Sutarno, yang menggurat dalam makalahnya.

Mengenai apa yang dimaksud dengan etika itu, ia memberikan definisi-kerja sebagai berikut : “Etika adalah pemikiran mengenai apa yang dianggap baik/buruk, benar/salah, berdasarkan nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip tertentu, yang selanjutnya dijadikan dasar dan pedoman bagi motivasi, pemikiran dan prilaku manusia, baik dalam kehidupan perorangan maupun masyarakat.

Sutarno menambahkan istilah lain yang erat kaitannya dengan etika sehingga sering disinonimkan adalah “moral dan moralitas”. Kalau “etika” berasal dari bahasa Yunani (ethos) maka “moral” berasal dari bahasa latin (moris, bentuk jamak dari mos) yang berarti kebiasaan atau aturan. Kalau etika lebih bersangkut-paut dengan sikap dan kesadaran batin, maka moralitas lebih diartikan sebagai aturan-aturan perilaku yang diakui, diterima dan diberlakukan dalam kehidupan.”

“Dalam hal ini, etika berfungsi untuk memberikan dasar dan legitimasi terhadap moralitas yang sudah ada, maupun dalam upaya merumuskan yang baru,” tandasnya.

Lantas, ia memberitahukan bahwa di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali dijumpai kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan perbuatan-perbuatan, yang sebenarnya merefleksikan asumsi-asumsi dari dimensi etika. “Wah, dia memang orang yang tidak tahu diri,” atau “karena nila setitik, rusak susu sebelangga”, atau dalam situasi jalanan sepi, meski lampu lalu lintas merah — diterobos saja, dan sebagainya,” katanya lagi, memberikan contoh.

“Bagi masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai kelompok dengan latar belakang suku, budaya, agama, tingkat pendidikan – yang berbeda-beda, dampak yang mengakibatkan perubahan dalam pandangan tentang nilai-nilai etika itu akan lebih membingungkan lagi, karena keragaman pandangan yang muncul pasti menjadi semakin besar,” ulasnya dalam makalah.

Hal kedua, yang Pendeta Sutarno sampaikan adalah menyangkut komitmen Satya Wacana kepada etika. “Oleh para pendirinya, universitas kita ini diberi nama “Satya Wacana”, yang artinya “Setia kepada Firman Tuhan”. Nama tersebut mengungkapkan dengan jelas apa yang diinginkan oleh para pendiri mengenai hakekat keberadaan dan aktivitas perguruan tinggi yang didirikan itu,” katanya.

“Satya Wacana didirikan, sebagi wujud atau bentuk dari suatu kesetiaan, yang dengan demikian juga berarti ketaatan, kepada Tuhan dan hukum-hukum-Nya, sebagaimana dinyatakan melalui Firman-Nya. Dengan demikian keberadaan dan kegiatan Satya Wacana itu dimaksudkan sebagai alat untuk mewujud-nyatakan hal-hal yang diyakini merupakan kehendak Tuhan. Dalam hubungan inilah maka sebagai lembaga yang fungsi utamanya adalah berulah ilmu pengetahuan, motto Satya Wacana berbunyi, “Takut akan Tuhan adalah permulaan segala pengetahuan”. (Kitab Amsal 1 : 7a).”

Lebih lanjut ia mengatakan, “Takut akan Tuhan,” artinya mengakui, menghormati dan menaati Tuhan. Dengan demikian, di dalam barulah ilmu pengetahuan, Satya Wacana ingin selalu mendasarkan kegiatannya itu dengan mengacu dan menaati Tuhan sebagaimana dinyatakan di dalam Firman-Nya,” katanya lagi.

“Berdasarkan nama dan motto tersebut kiranya jelas bahwa bagi Satya Wacana, Firman Tuhan itu diyakini menjadi sumber dan dasar dari nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip kehidupan yang diidealkan dan ingin diterapkan dalam berbagai bidang dan aspek kehidupan. Dalam hubungan ini, untuk lebih menjelaskan dan memfungsikan arti dan isi dari nama dan motto tersebut, dirumuskan Visi dan Misi, sebagai jabaran dari nama dan motto.”

Mengutip Statuta (anggaran dasar suatu organisasi; misal perguruan tinggi : Kamus Besar Bahasa Indonesia) — Satya Wacana, sebagaimana tercantum rumusan mengenai visi dan misi Satya Wacana—“dapat ditangkap adanya kesadaran dan keyakinan bahwa universitas, khususnya Satya Wacana, mengemban fungsi yang penting dan strategis untuk menumbuhkan, mengembangkan – mewujudkan nilai-nilai, norma-norma dan prinsip-prinsip yang luhur dan bermakna bagi kehidupan individual maupun sosial –kemasyarakatan.”

Dari kutipan rumusan visi dan misi itu menjadi lebih jelas, “betapa Satya Wacana memang memiliki kepedulian yang kuat terhadap pentingnya etika dalam seluruh kehidupan dan aktivitasnya. Itulah sebabnya, sejak permulaan berdirinya, mata kuliah Etika telah dijadikan salah satu mata kuliah penting dalam kelompok mata kuliah dasar yang diselenggarakan Satya Wacana,”ujarnya

“Pendidikan janganlah diredusir hanya menjadi tempat dan alat untuk latihan-latihan keahlian dan ketrampilan belaka. Pendidikan harus memelihara dan mempertahankan cirinya yang fundamental sebagai pengawal dan pengembang nilai-nilai serta tujuan-tujuan hidup yang lebih luas dan mulia …. Bagaimanapun perlu diusahakan agar perguruan tinggi tidak hanya menjadi semacam “lopende band” (ban berjalan) dalam mekanisme masyarakat yang hanya mampu melahirkan ‘manusia-manusia mesin’ yang ahli dan terampil dalam pembangunan teknologi dan industrialisasi, tetapi kekuk dan asing terhadap nilai-nilai kemanusian yang lebih lengkap dan dalam. Di tengah-tengah menggelegaknya arus pembangunan teknologi dan industrialisasi, perguruan tinggi terpanggil untuk jangan menganaktirikan pembinaan moral atas dasar nilai-nilai kebudayaan dan kemanusian yang luhur,” tegas Sutarno mengulang pidato penerimaannya sebagai rektor pada tahun 11 Oktober 1973.

Maka, “keberadaan suatu “Pusat Kajian Etika” dalam lingkungan Satya Wacana sudah selayaknya merupakan suatu keharusan, karena merupakan alasan logis dari visi dan misinya. Apalagi dalam situasi dan kondisi kehidupan masyarakat dan dunia kita sekarang ini, yang dengan jelas menunjukan betapa nilai-nilai etika dan moralitas telah menjadi begitu kabur dan kacau,” ujar Sutarno.

“Kalau Satya Wacana benar-benar ingin setia kepada visi dan misi sebagaimana telah dirumuskan oleh pendirinya, dan tidak menjadikan visi dan misi itu hanya sebagai impian formalitas belaka, maka upaya untuk menumbuh-kembangkan pemikiran mengenai nilai-nilai etika serta implikasi dalam kehidupan kampus khususnya dan masyarakat luas umumnya, memang harus dilakukan secara lebih serius dan terfokus.”

Adapun salah satu bentuk dedikasi Pendeta Sutarno adalah turut serta menghidupkan “Pusat Kajian Etika”. Hal ini, dimaksudkan untuk menjadi alat dan sarana yang bertugas untuk mengidentifikasi, mencermati, dan mengevaluasi berbagai masalah yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, khususnya yang memerlukan pemikiran dan pertimbangan berdasarkan nilai-nilai etika, untuk selanjutnya memberikan masukan bagi upaya merumuskan dan menentukan sikap etis yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Etika itu meliputi dan menjangkau seluruh aspek kehidupan, serta menjadi concern dari banyak pihak, maka di dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya itu, Pusat Kajian Etika perlu penerapan pendekatan dan cara kerja yang sifatnya lintas disiplin ilmu dan sedapat mungkin juga lintas iman – kepercayaan.”

Secara pribadi Sutarno berharap, “semoga Pusat Studi yang baru ini, dapat benar-benar hidup dan beraktifitas secara signifikan dan kontinyu, sehingga tidak “layu dan loyo” sebelum berkembang. Untuk itu, kiranya keberadaan Pusat Kajian Etika ini juga memperoleh dukungan nyata dari seluruh civitas akademika kita,” pungkas Sutarno memberi ceramah siang itu, ia pun kembali ke tempat duduk.

“Pusat Kajian Etika bukan sekedar intelektual atau verbal saja. Ini harus lintas disiplin ilmu. Tapi bagaimana itu diterjemahkan pada sikap dan perbuatan. Etika itu diterapkan riil,” ujar Tides di akhir acara, usai makan siang.

“Tides” panggilan akrab bagi teman-temannya, dia merupakan salah satu teman dekat Sutarno yang saat turut hadir dalam acara tersbut. Nama lengkapnya adalah Aristides Katoppo, wajahnya mirip Ohara dalam film Jepang. Ia mantan Pemimpin Redaksi Sinar Harapan, media yang dibredel oleh rezim orde baru pada 1986.

“Apa pendapat anda tentang Pendeta Sutarno?” tanya saya

“Beliau cukup pengalaman, menjadi nara sumber penting,” jawabnya.

“Di indonesia kita sering berperilaku:” perhatikan apa yang saya katakan, jangan lihat apa yang saya lakukan”. Jadi etika itu seolah hanya verbal, intelektual atau slogan moral yang  ucapan, bukan diuji dari perbuatan. Ini namanya etika munafik yang mewabah sekarang,” ujar Tides, yang saat itu tampak geram.

“Di Jepang, sewaktu ingin melakukan modernisasi negara sakura agar setara dengan kekuatan barat macam Inggris, Perancis, Amerika dan lain-lain. 150 tahun yang lalu ingin mengejar ketertinggalan dengan melakukan industrialisasi, mengadaptasi teknologi dan sains, memutuskan agar supaya jaya dilaut menjadi unggul sebagai pesaing maritim, mendirikan beberapa sekolah pelayaran. Dalam kurikulum mata pelajaran pertama, bukan navigasi, atau ilmu ilmu kelautan, melainkan pelajaran pertama dan pokok adalah etika. Tentu dilatar dengan dasar jiwa kepribadian khas Jepang : Bushido,” tandasnya, lagi, sambil mengakhiri wawancara siang itu.

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s