Ritual Nenekku

imagesSeminggu sekali biasanya aku pulang ke rumah nenek yang kini tinggal sendirian. Nenekku kalau berjalan membungkuk, kemana-mana ia selalu membawa kursi sebagai penyangga berat badannya. Ritualnya sehari-hari, mengunyah sirih, berjemur dipagi hari, dan duduk di beranda depan rumahnya.

Setiap kali aku bersama nenek, yang paling ia sukai adalah berkisah tentang masa silamnya. “Aku tu … dulu kerjaannya nyuri daun metir milik tetangga,” katanya. Sambil mengawali ritual mengunyah daun sirih.

Saat itu aku hanya tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalaku setiap kali mendengar celoteh nenek yang kadang terdengar konyol. Maklum, nenekku kini telah tuna rungu, kata ayah ia bisa mendengar tiap akhir bulan.

Kurang lebih 20-an tahun nenekku ditinggal pergi kakek menemui sang khalik. Saat itu aku masih kecil ketika kakekku meninggal dunia. Yang tersisa dalam memoriku, kakekku kalau berjalan membawa tongkat kayu, dan demen sekali menghisap cigaret linthingan.

Kata ayah, namaku sendiri pemberian dari kakekku. Konon diambil dari salah satu tokoh pewayangan, nama lain dari Werkudoro, agar nanti gagah, perkasa, pemberani, dan suka memberantas keangkaramurkaan.

Nenekku terus bercerita, aku mencoba untuk selalu didekatnya sambil sesekali menyentuh bahu nenek. Tak hanya cerita hiroiknya itu, nenekku juga memendam cerita kelam yang kadang bikin ia menitikan air mata. “Aku dulu pas mantenan bapak diem-diem menjual sapi.” Saat itu aku hanya mengangguk, sambil mengelus-elus punggung nenek, yang saat itu selalu teringat akan masa mudanya.

Raut wajah nenek dari hari ke hari semakin keriput, yang kadang membuatku enggan untuk meninggalkannya. Ia selalu berharap agar anak-anaknya atau cucu-cucunya mau menemani dan tinggal bersamanya. Nenekku yang sudah usur ini selalu khawatir bila sewaktu-waktu diambil sang khalik, kalau tak ada seorangpun mengetahuinya.

Dulu nenekku dikira telah meninggal dunia, sempat para tetangga berdatangan memanjatkan doa buat nenekku. Isakan tangis dari sebagian anak dan cucu-cucunya tak terbendung. Berjam-jam nenekku tak sadarkan diri, seakan bulir-bulir kabut benar-benar menyelimuti seisi rumahnya.

Namun, tak sedikit yang mengira nenekku terbangun dari kenihilan. Semua orang yang datang tercengang setelah mendengar kabar nenekku hidup kembali, alih-alih mata langsung tertuju tempat nenekku berbaring. Semua orang yang datang memanjatkan sujud syukur termasuk ayahku. Nenekku bilang rasanya seperti berada di sore hari, senyap, redup, dan kosong.

Hari berikutnya ayah pergi ke orang pintar untuk meminta petunjuk. Setelah pulang ayah memberitahukan kepada semua sanak-saudarannya, kalau nenekku saat itu gak jadi meninggal karena masih menyimpan jimat ditubuhnya yang belum dilepas. Ayahku juga bilang kalau nenekku akan hidup lebih lama lagi.

Semenjak kejadian itu paras nenekku kembali bersinar dan kulitnya begitu bersih. Namun, tubuh nenek masih tergeletak lemah di atas kasur, nenekku masih butuh perawatan khusus. Nenekku pun gak bisa berdiri seperti sedia-kala. Kalau mau berak pun ia harus dibopong, selanjutnya didudukan di atas kursi yang telah dilubangi.

Semasa perawatan adikku lah yang kerapkali memijat kaki nenek, nenekku suka dipijat-pijat dan diurut pakai jahe yang telah diparut. Adikku juga sering membopong nenek keluar rumah untuk menghirup udara segar atau sekedar berjemur.

Adikku termasuk cucu paling ia sayangi dari sekian cucu yang ada, semenjak adikku bekerja di luar kota nenekku kerapkali bertanya tentang kabarnya, “sekarang dia kerja di mana?

“Eeealah … dulu aku sakit yang merawat dia lho….”

Aku menatap wajah nenek yang saat itu tampak memendam kerinduan teramat dalam kepada cucunya itu. Aku hanya bisa mencoba melerai kepiluan yang dirasakannya. Beruntung saat itu akhir bulan, pendengaran nenekku lumayan normal, jadi aku bisa memberi gambaran singkat tentang keberadaan adikku selama ini. “Kabarnya baik-baik saja.”

“Lebaran pulang,” kataku, sambil sedikit mulutku kudekatkan ke telinga nenek.

PAGI KULIHAT mentari nun jauh di timur, nenek sudah berjemur duduk di kursi merah yang biasa ia pakai sebagai penyangga tubuhnya itu. Tak lama kemudian tiba-tiba nenekku menangis dan ngomel-ngomel sendirian. Aku mencoba mendekati nenekku, tapi ia menghiraukan ku. Dan, terus-menerus nenekku mencucurkan air mata hingga membasahi wajah keriputnya.

“Anak-anakku gimana kok gak perhatian lagi sama orang tuanya?”

Aku jadi teringat ayah dan ibuku yang selama ini kutahu perhatian sama nenekku, biasanya hari libur keduanya menemani nenekku. Tetapi dua hari aku bersama nenek, ayah dan ibuku tak kunjung datang. Anak-anaknya yang masih satu kampung pun tak menampakkan hidungnya. Biasanya kalau ayah dan ibuku bersama nenek, nenekku merasa tenang dan tak bakalan secengeng hari ini.

Cukup menahan kejengkelanku sendiri, akhirnya aku meminta nenek supaya mau masuk ke dalam rumah. Nenekku mengikuti kata-kataku, dan ia berjalan perlahan-lahan diiringi kursi penyangganya itu. Sebentar aku panaskan sup sayur dan menggoreng telur, usai itu kuhidangkan kepada nenek, sarapan.

Kulihat nenek sudah selesai makan, lalu ia meminta supaya diambilkan air putih panas. Selesai sarapan nenekku yang usianya seabad lebih kini, kembali melakukan ritual kecil mengunyah daun sirih, duduk di beranda, menunggu sore, lalu masuk ke dalam kamar.

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di cerpen. Tandai permalink.

3 Balasan ke Ritual Nenekku

  1. wahyu am berkata:

    hehe,

    nenek nenek 😆

  2. egistahadi berkata:

    pantesan kemaren aku disuruh mampir ke tempat oma,,

    :((

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s