Teater Ala Boal

Didot Klasta adalah Koordinator Lembaga Media Aksi Komunikasi KALANGAN. Di kantor inilah diadakan pemutaran film dan diskusi “Theatere of The Oppressed” ( teater kaum tertindas), Jalan Cemara IV No. 13 Salatiga, pada 4 Desember 2009.

Pukul 19.00, pemutaran film berdurasi pendek dimulai. Film ini mengisahkan bagaimana seorang Augusto Boal (1931 hingga 2009), yang memperkenalkan teatrikal aksi pendidikan rakyat radikal untuk membongkar situasi atau relasi penindasan menuju pemerdekaan sosial — politik.

Ada 26 peserta diskusi yang hadir malam itu, mereka datang dari berbagai komunitas teater. Ada perwakilan dari teater Kronis, Getar, Kalong, Angka Nol, Gawis, Merti Lestari, dan Menir. Lalu, perupa dan kelompok diskusi warasOra.  Semua peserta duduk melingkar di atas tikar di dalam sebuah garasi mobil.

Diskusi malam itu ditempatkan di sebuah garasi mobil cukup sederhana, para peserta disuguhi makanan alakadarnya, seperti kacang kedelai , tahu goreng, dan minumannya aqua gelas.

“Kehidupan itu teater, tapi teater yang memberi tabir terhadap realitas sesungguhnya,” ujar Didot pernah aktif di Instutut Teater Rakyat Yogyakarta, pada 1991. “Semua orang adalah parlemen, semua orang anggota parlemen.”

Teater macam ini dulu sering digunakan diera 80 an. MH. Ainun Najib — Dinasti — pernah belajar teater macam ini di Filipinan. Lalu dia bawa ke Indonesia, tapi ironisnya dari masa ke masa teater ala Boal kian surut.

Teater model Boal ini biasanya juga digunakan Lembaga Swadaya Masyarakat pendidikan akar rumput.

Salah satu metode yang dibikin Boal adalah culture of Silence, metode ini sangat membantu bagi diri yang diam, diam karena gak bisa ngomong dsb.

Dari film yang diputar saat itu, Teddy Delano menanggapi kalau Augusto Boal itu melihat ada diskontruksi teater. Kemudian dia menambahkan, “permasalahan terbesar bila kebanyakan orang menganggap baik-baik saja, padahal mereka tertindas.”

Pukul 21.00 acara ini berakhir, itupun usai ada kesepakatan antara Didot Klasta dengan para peserta diskusi. Setelah acara bubar, Didot berharap nantinya komunitas film yang hadir tadi bisa menjadi fasilitator dilingkungannya masing-masing. Ke depan, dia ingin mengembangkan teater “Theatere of The Oppressed” berbasis komunitas.

Iklan

Tentang bambang triyono

saya merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara, yang kesemuanya laki-laki. kakak pertama saat ini telah menjadi seorang perawat, ke dua, guru SMP, sibungsu sebentar lagi jadi artis di Ibu Kota, sedangkan saya sendiri saat ini baru mau menyelesaikan kuliah di UKSW salatiga. kendati demikian, kendala finansial menghambat studi saya, maka untuk saat ini dengan terpaksa tidak dapat mengikuti kuliah semester ganjil. saya di lahirkan di Boyolali, 30 Maret 1979. ibu saya bernama Umayah sedangkan bapak Soemardjo. beliau lah yang membimbing kami hingga akhirnya secara perlahan-lahan dapat dikatakan berhasil. 3 dari empat saudara saya berhasil menyelesaikan studi (S1). sebenarnya saya sangat berharap studi (S1) ini segera selesai. sehingga apa yang saya cita-citakan dapat tercapai......dengan demikian ortu benar-benar bangga pada anak-anaknya yang telah dibesarkannya selama ini. "amin" barangkali saya ini anak yang paling banyak berhutang budi ama ortu, maka itu saya ingin mewujudkan impian saya....yang nantinya dapat membahagiakan ke dua orang tua saya dan saudara-saudara saya." insya Allah" demikian sekilas data diri saya, yang sewaktu-waktu dapat saya ubah sesuai keinginan saya. salam, bambang triyono
Pos ini dipublikasikan di opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s