Arsip Kategori: cerpen

Ritual Nenekku

Seminggu sekali biasanya aku pulang ke rumah nenek yang kini tinggal sendirian. Nenekku kalau berjalan membungkuk, kemana-mana ia selalu membawa kursi sebagai penyangga berat badannya. Ritualnya sehari-hari, mengunyah sirih, berjemur dipagi hari, dan duduk di beranda depan rumahnya. Iklan

Dipublikasi di cerpen | 3 Komentar

Simfoni Pelangi

Oleh: Bambang Triyono Awan hitam menggantung. Kurang lebih jarum jam menunjuk pukul delapan malam. Aku bersama seorang perempuan, Pelangi namanya. Kami pergi ke sebuah kafe di pinggir kota kecil di kaki gunung Merbabu. Di tempat inilah aku mengutarakan isi hatiku … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Tag , | Meninggalkan komentar

Menghidupkan Scientiarum

Oleh: Bambang Triyono   Mencoba memahami diri menjadi seorang mahasiswa, aku memiliki keingintahuan yang tinggi. Terbukti Di kala Lembaga Pers Mahasiswa di UKSW mati suri, aku memberanikan diri untuk membangun kembali sebuah pers mahasiswa yang tidak semata-mata hidup segan mati … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Tag , | 1 Komentar

Obrolan Sastra

Oleh : Bambang Triyono Sore hari mendung merebah di atas kota Semarang, ketika itu aku baru saja turun dari bus yang aku tumpangi, seusai melakukan perjalanan dari Salatiga. Selanjutnya kuayunkan kaki menuju sebuah kafe es krim yang letaknya di sebelah … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Kereta Lambat

Pulang naik kereta dari Senin, membuat saya memperoleh pengalaman berharga. Di sebuah gerbong yang disesaki para penumpang seakan menambah daya tarik tersendiri. Tak jarang penumpang bergelantungan di setiap pintu kereta. Tampak pula para pedagang asongan berlalu-lalang menawarkan barang dagangan, dari … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Senyum Mengembang

Oleh: Bambang Triyono Kira-kira tengah malam telepon genggamku berdering setelah itu aku buka sms, rupanya si bungsu yang mengirimnya. Isi pesan tersebut memberitahukan kalau uang buat transport di Jakarta habis. Maka ia meminta aku untuk mencarikan uang. Usai membaca sms … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | 5 Komentar

RumAh KOsong

Malam kian larut, hujan pun tak kunjung reda, kurang lebih jam 20.30 malam, tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita. Dalam suasana hening, tak ada satu pun teman di kost, yang kala itu mereka pulang ke rumah masing-masing. Tak ada tanda lampu … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di cerpen | Meninggalkan komentar